Jika Malaysia dan Timur Tengah gagal mendirikan bank syariah besar, Indonesia kini berani mengambil tantangan mendirikan bank BUMN syariah berukuran mega.

Merger Empat Bank Syariah
Sebelumnya, Malaysia juga memiliki rencana yang sama. Menggabungkan beberapa bank syariah di negaranya untuk menjadi satu bank syariah besar yang mampu bersaing dengan bank seperti HSBC namun tidak teralisasi hingga kini. Pun dengan rencana Islamic Development Bank (IDB) pada 2012 untuk mendirikan bank syariah besar kelas dunia yang akan berbasis di Timur Tengah.
“Kami melihat tantangan pendirian bank syariah besar di Asia,” kata Raj Mohamad, Managing Director Five Pillars Pte, perusahaan konsultan di Singapore. “Jika pendirian itu terlaksana, itu akan sangat baik bagi industri perbankan dan keuangan Islam tidak hanya di Asia, juga secara global,” kata Raj menambahkan.
Dalam rencana Pemerintah Indonesia, seperti dikatakan Gatot Trihargo, empat bank BUMN yang disebutkan sebelumnya diminta menambah modal antara Rp 5 hingga 10 Triliun untuk bank-bank syariah miliknya sebelum melaksanakan penggabungan. “Ketika sudah digabungkan, bank BUMN syariah ini akan memiliki dana sekitar Rp 70 Triliun dan ini dapat digunakan untuk pembiayaan proyek infrastruktur”, kata Trihargo menambahkan.
Permintaan kepada bank induk dilakukan karena bank-bank syariah dari para induk tersebut memiliki keterbatasan modal.
Pendirian bank BUMN syariah ini adalah salah satu dari beberapa alternatif cara pemerintah Indonesia meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah di negeri ini. Rencana yang sudah mulai serius terdengar sejak 2013. Jika digabungkan, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia akan mencapai 20% pada 2018. “Jika tidak terjadi penggabungan dan pendirian bank BUMN syariah, pangsa pasar diperkirakan hanya sekitar 10%”, kata Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) pada Februari. Baca juga: Untuk Bersaing, Perbankan Syariah Butuh Tambahan Aset Rp700 Triliun
Merger Hanya Jika Mencapai Skala Ekonomi
“Setelah setiap bank mencapai skala ekonomi yang sehat dan cukup, baru mereka boleh digabungkan,” kata Imam Teguh Saptono, Direktur PT Bank BNI Syariah, anak perusahaan dari bank terbesar keempat di Indonesia, PT Bank BNI.
Data OJK mengatakan, total aset perbankan syariah Indonesia tumbuh 12% menjadi Rp 272 Triliun pada 2014, sementara di Malaysia bertumbuh menjadi RM 625 Miliar. Total dana di perbankan syariah Indonesia mencapai Rp213 Triliun pada Maret 2015, atau 18% lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya.[su_pullquote align=”right”]“Setelah setiap bank mencapai skala ekonomi yang sehat dan cukup, baru mereka boleh digabungkan” [/su_pullquote]
Gagalnya Malaysia dan Timur Tengah
Bank Sentral Malaysia, pada 2009 mengusulkan pendirian bank syariah besar untuk memfasilitasi pemosisian negeri itu sebagai hub sukuk dunia. Sayangnya, terhambat masalah perijinan pada 2011 karena melibatkan bank di Asia da Timur Tengah. Percobaan kedua adalah ketika ada rencana menggabungkan CIMB Group Holdings Bhd., RHB Capital Bhd., dan Malaysia Building Society Bhd., pada Oktober tahun lalu, namun dinyatakan batal pada Januari 2015.
Di Timur Tengah, rencana IDB pada 2012 untuk mendirikan bank syariah besar dunia melibatkan Dallah Albaraka Group dan Pemerintah Qatar, juga gagal terlaksana.
Proposal Indonesia bertujuan “Menciptakan katalis pada industri perbankan syariahnya,” kata Abas A. Jalil, Chief Executive Officer, Amanah Capital Group Ltd., konsultan di Kuala Lumpur, Malaysia. “Indonesia butuh bank syariah yang lebih besar untuk mendanai pembangunan infrastrukturnya dan mengelola dana syariah yang terus bertumbuh”, kata Abas menambahkan.
Ya kita tunggu saja.

