Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap stasiun televisi menampilkan program Ramadhan yang mengedepankan fungsi edukasi untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. MUI akan memberikan apresiasi bagi tayangan Ramadhan berkualitas.

“MUI ingin memberikan apresiasi setinggi-setingginya terhadap kinerja pekerja televisi yang semakin tahun semakin membaik,” kata Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Imam Suhardjo, dalam konperensi pers di kantor MUI Pusat Jakarta, Selasa (7/7).
Imam menuturkan, perbaikan yang ada saat ini dapat terlihat dari intensitas tayangan yang tidak mendidik seperti komedi menjelang sahur dan berbuka puasa dengan banyak konten yang dianggap kurang mendidik karena terkesan sarkastik. Seperti tayangan komedi sahur yang sering memuat pelecehan, cacian, makian, celetukan yang menyasar fisik dan sebagainya yang tidak sejalan dengan visi Ramadhan untuk memperkuat taqwa. Namun, saat ini sudah jauh berkurang dengan tampilan program inovasinya. “Kita patut apresiasikan kontribusi mereka insan televisi,” ujarnya.
Menurut Imam, perbaikan program Ramadhan tersebut tidak terlepas dari kontrol yang lebih cermat dari berbagai lembaga dan masyarakat, selain itu kesediaan lembaga penyiaraan itu sendiri untuk bersama-sama memperbaiki diri.
- CIMB Niaga Gaungkan The Cooler Earth 2025, Ajak Masyarakat Partisipasi Gerakan Keberlanjutan
- BSI Siapkan Promo Beli Emas Sekaligus Berdonasi
- CIMB Niaga Syariah Akan Menjadi Salah Satu Pilar Penting dalam Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional
- CIMB Niaga Gelar Workshop dan Kelas Jurnalisme Inspiratif, Dorong Peningkatan Kompetensi Jurnalis
MUI, lanjutnya, dalam pemantauan memperhatikan program khusu keagamaan dan HVSB (honor, violence, sex dan banyolan). MUI menilai kebanyakan semua lembaga penyiaran mempersiapkan program tayangan Ramadhan dengan lebih baik dan berlomba untuk menjadi contoh. Seperti film seri berlatar sejarah komedi situasi keseharian yang kaya akan unsur pendidikan dan lainnya. Mereka semua berlomba menampilkan program sahur yang syarat edukasi agama. Program mereka yang sukses tahun lalu akan diikuti oleh lembaga penyiaran lainnya dengan berbagai modifikasi.
Menurut catatan MUI, kata Imam, saat ini masih ada sekitar dua stasiun televisi yang masih menayangkan program sahur yang kurang mendidik. “Namun kondisi ini merupakan kebalikan dari waktu lalu dimana hanya ada dua atau tiga stasiun televisi yang menayangkan program sahur positif,” tegasnya.
Imam berharap melalui upaya perbaikan ini, ke depannya acara televisi bisa berisi program yang bermanfaat untuk membentuk karakter bangsa. Baik program yang ditayangkan pada bulan suci Ramadhan maupun di luar Ramadhan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin mengatakan pantauan MUI selama bulan Ramadhan terhadap program televisi dinilai, setiap media mempunyai tanggungjawab untuk menyajikan program yang berkualitas kepada masyarakat. “Kami meminta kepada televisi untuk mengembangkan program Ramadhan yang positif dan konstruktif, terutama menampilkan fungsi edukasi untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Din.
Menurut Din, bahwa stasiun televisi mempunyai tanggungjawab edukasi untuk menyuguhkan program berkualitas, ini sering dilupakan. Maka, kata Din, sejak tahun 2001, MUI memberikan anugrah award terhadap televisi yang menampilkan program Ramadhan yang dianggap membangun dan mencerdaskan bangsa. “Sesuai hasil pantauan MUI, saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara siaran yang alhamdulilah semakin tahun menampilkan program yang semakin baik,” kata Din.
Din pun menghimbau televisi yang masih menayangkan program yang tidak bermanfaat, harus segera berbenah menampilkan inovasi program berkualitas bermuatan edukasi. Din berharap masyarakat bisa memilih program-program yang positif karena bagian dari ibadah dan menambah amalan di Ramadan
Adapun MUI melakukan pemantauan ini, kata Din, adalah tergerak oleh rasa tanggungjawab untuk perbaikan ahlak bangsa, terutama pada bulan suci Ramadhan ini. Maka semua pihak, khususnya elemen umat Islam untuk bisa menunjukkan tanggungjawabnya mendukung pembangunan dan pembentukan ahlak bangsa.

