Perkembangan teknologi akhir-akhir ini tak hanya semakin membuat hubungan antar manusia menjadi kian dekat secara maya. Teknologi informasi yang berkembang juga menimbulkan efisiensi dalam melakukan pekerjaan. Salah satu contohnya penggunaan teknologi informasi dalam pengelolaan data zakat.

Ia menyontohkan BAZ Sragen memiliki program beasiswa dan masyarakat bisa melihat persyaratannya melalui internet. Calon penerima beasiswa pun akan diumumkan di website BAZ Sragen dan masyarakat dapat menilai penerima bantuan beasiswa yang memenuhi syarat. Selain itu, sejak 2012 BAZ Sragen juga sudah melakukan audit terhadap laporan zakat. BAZ Sragen menghimpun dana zakat sekitar Rp 2 miliar per tahun.
Ulin pun menyambut kehadiran Sistem Informasi Manajemen Badan Amil Zakat Nasional (Simba) yang sedang dikembangkan oleh Baznas. Simba berperan sebagai sentralisasi data penghimpunan dan penyaluran zakat, serta jumlah mustahik dan muzakki di setiap daerah. Melalui Simba ini Bazda dan Baznas dituntut untuk memberikan laporan keuangan yang transparan dan akuntabel.
Simba merupakan salah satu rencana strategis Baznas dalam rangka meningkatkan dan optimalisasi pengelolaan zakat di Indonesia. Lima rencana strategis Baznas adalah memperluas jangkauan dan sasaran sosialisasi zakat kepada seluruh segmen masyarakat di tanah air, meningkatkan standar kompetensi dan profesionalisme SDM pengelolaan zakat melalui program pelatihan, terutama Sistem Informasi Manajemen BAZNAS, mengupayakan pembiayaan APBN dan APBD untuk kelembagaan BAZNAS Pusat dan Daerah melalui mekanisme penganggaran yang aman, membangun sistem informasi database mustahik dan muzaki secara menyeluruh, sehingga hasil penghimpunan dan penyaluran dapat dimonitor setiap saat. Dan, yang terakhir adalah mempertajam fokus program pendayagunaan zakat dalam rangka mewujudkan fungsi zakat sebagai jaminan sosial dan perlindungan human security yang bersifat permanen
Setidaknya ada lima kabupaten/kota dan tiga provinsi yang menjadi pilot project Simba, yaitu Sijunjung, Serang, Sukabumi, Kuningan, Berau, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Pilot project tersebut akan berlangsung hingga Desember 2014 untuk kemudian dievaluasi perkembangannya.

