Pemerintah bersama BI terus menjaga posisi nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen guna memperbaiki kurs hingga mencerminkan stabilitas ekonomi Indonesia.

“Pemerintah, BI dan OJK akan selalu menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan, agar dapat melalui masa-masa sulit yang tidak mudah dan penuh ketidakpastian,” demikian ditegaskan Bambang Brodjonegoro kemarin, menyikapi hasil pertemuan Federal Reserve (The Fed) belum lama ini.
“Kondisi perekonomian harus tetap dijaga, karena penundaan kenaikan tingkat bunga acuan Federal Reserve berpotensi menimbulkan spekulasi dolar AS. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Bambang mewanti-wanti.
- CIMB Niaga Business Summit 2026 Usung Vision Made Possible Dukung Perusahaan Indonesia Tumbuh Berkelanjutan
- Prudential Syariah Luncurkan Asuransi Jiwa PRUCare 360 Syariah
- Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak Signifikan, Tembus Rp1,9 Triliun
- BSI Perkuat Ekosistem Wakaf Produktif, Dorong Potensi Rp180 Triliun Jadi Kekuatan Ekonomi Umat
Menurut Bambang Brodjonegoro, apabila tingkat bunga acuan Federal Reserve dinaikkan, hal tersebut merupakan sinyal utama membaiknya ekonomi AS, yang berarti ekonomi Tiongkok dan negara-negara lainnya yang terkait juga membaik, dan pada akhirnya memberikan nilai positif untuk Indonesia.
Lebih lanjut Bambang Brodjonegoro menilai, level dolar AS saat ini telah menunjukkan price-in pelaku pasar terhadap kenaikan tingkat bunga acuan Federal Reserve.
“Pemerintah bersama BI pun akan terus menjaga posisi nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen untuk memperbaiki kurs hingga mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia,” demikian tutup Bambang Brodjonegoro – Menteri Keuangan R.I.

