
“BSM justru mampu menjaga likuiditas dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) selama 2014 (Januari sd Juni) rata-rata berada pada level 89,34 persen,” kata Kusman Yandi, Senior Executive Vice Presiden BSM di Jakarta, Kamis (14/8/2014), seperti dikutip dari laman Pikiran Rakyat.
Kusman Yandi menekankan bahwa posisi FDR BSM per Juni 2014 adalah sebesar 89,91%, atau membaik 2,29% dibandingkan posisi di kuartal yang sama tahun lalu, Juni 2013, yakni sebesar 92,20%. Menurutnya, faktor utama penyebab membaiknya kondisi FDR di BSM dikarenakan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus tumbuh.
‘’Stabilnya FDR ditopang pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga). Pertumbuhannya 7,48 persen atau Rp 3,84 triliun (year on year). Dari 51,33 triliun (Juni 2013) menjadi Rp 55,17 triliun (Juni 2014). Nah, kenaikan DPK ini memperkuat likuiditas kami,’’ ungkap Kusman seperti dikutip dari laman Inilah.com. “DPK BSM tumbuh Rp3,84 triliun (year on year/yoy) atau sekitar 7,48% dari semula Rp51,33 triliun per posisi Juni 2013, menjadi Rp55,17 triliun per posisi Juni 2014. Bahkan untuk posisi Juli, DPK BSM naik lagi menjadi Rp57,3 triliun,” ungkapnya seperti dikutip dari laman Metrotvnews.com.
Keseriusan BSM untuk tetap memimpin market share di sektor ekonomi syariah Indonesia dan juga di tengah ketatnya perbankan nasional saat ini ditunjukkan dengan menjaga tingkat likuiditas. Sementara itu, indikator pengukuran likuiditas di perbankan terdiri atas dua hal yakni rasio Alat Likuid (AL) terhadap Non Core Deposit (NCD) dan rasio AL terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK).
Sepanjang 2014 ini BSM telah berhasil mempertahankan rasio AL/NCD berada pada kisaran rata-rata 76.29%; diatas ketentuan minimal yang disyaratkan yaitu 50%. Sementara untuk rasio AL/DPK berada di angka 15.44% yang juga berada diatas ketentuan minimal sebesar 10%. “Hal ini artinya, safety level likuiditas BSAM dalam kondisi bagus. Alhamdulillah,’’ tegasnya.

