Tragedi Mina kembali merenggut ratusan korban jiwa, pada Kamis (24/9). Tragedi ini terjadi pada puncak wukuf pelembaran jumrah.
Setelah insiden jatuhnya derek raksasa (crane) di Masjidil Haram, Mekkah, pada 11 September 2015 lalu. Akibatnya korban tewas mencapai 111 jamaah haji dan 238 orang luka-luka. Kini, tragedi Mina kembali mendera merenggut ratusan korban jiwa, pada Kamis (24/9).
Tragedi itu terjadi pada puncak wukuf, ribuan jamaah pagi hari itu terperangkap di perlintasan menuju area melontar jumrah, tepatnya di Jalan 204. Para jamaah haji berusaha masuk ke area jumrah dengan saling berdesakan, gelombang massa manusia pun tak bisa dibendung. Tak ada jalan keluar dan maju pun tak bisa. Terjadilah penumpukan yang menyebabkan beberapa jamaah haji terinjak-injak.
Korban tewas pun lebih banyak dibandingkan kasus jatuhnya crane pada awal September lalu. Data termutakhir menyatakan 717 orang tewan, dengan lebih dari 863 orang cedera sebelum sempat melempar jumrah.
Iran, yang 89 warganya tewas dalam tragedi di Mina, mengkritik pemerintah Arab Saudi sebagai pengelola tunggal ibadah haji. Ketua Tim Jamaah Haji Iran, Said Ohadi, menilai Arab Saudi sangat tidak profesional dalam penyelenggaraan haji tahun ini.
Menurut Said, tragedi Mina bisa dihindari seandainya dua jalur menuju Jamarat (tempat pelaksaan lempar jumrah) tidak ditutup. Ia pun menceritakan, selepas shalat Idul Adha, ribuaan jamaah haji yang melewati rute Jalan 204 berbondong-bondong menuju Jamarat. Mereka mengejar waktu yang afdul melakukan rukun wajib haji itu.
Namun, Said terkejut, karena rombongannya mendapati dua jalur ditutup. Padahal, ketika kepaninkan mulai terjadi akibat adanya jamaah asal Mesir jatuh di salah satu jembatan, jalur itu bisa menjadi rute evakuasi darurat. ”Jalur itu ditutup untuk alasan tidak dijelaskan dengan detail,” ujarnya.
Said meyakini penutupan itulah biang kerok utama sehingga jamaah saling injak. ” Tragedi ini menunjukkan ketidakmampuan pengelolaan haji mengatur arus jamaah, serta kurang adanya perhatian terhadap keselamatan jamaah haji. Petinggi Arab Saudi harus diminta pertanggungjawaban,” kata Said geram.
Senada dengan Said, Jamaah haji asal Inggris yaitu Bashaar Jamil yang selamat dari tragedi itu menyampaikan, bahwa selepas lempar jumrah, dia bersama ibunya mendapati dua jalur ditutup. ”Itu 30 menit sebelum tragedi terjadi. Sebelum dua jalur itu ditutup, sebetulnya arus menuju jamarat ramai lancar,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menuturkan, bahwa tragedi ini menjadi amunisi banyak pihak yang sejak lama mengusulkan pelaksanaan haji di Makkah dan Madinah dijalankan bersama-sama. Minimal oleh setiap perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Iran termasuk yang paling vokal menyuarakan tuntutan ini. “Kami tidak mungkin membiarkan insiden ini berlalu begitu saja,” kata Hossein.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi Mayjen Mansour Al-Tunki mengatakan, terjadinya penumpukan jamaah haji di luar prediksi. Jalan 204 merupakan jalur jembatan Jamarat. Sejumlah jamaah haji dilaporkan dibolehkan turun dari bus dan menuju jembatan tersebut untuk melontar jumrah, padahal jadwal mereka tidak pada waktu tersebut.
Sehingga arus gelombang manusia di Jalan 204 tidak bisa dihindari lagi, mengakibatkan jamaah haji terperangkap dan terinjak-injak. ”Dibandingkan tahun lalu, jumlah jamaah yang melintas di jalan tersebut untuk melontar jumrah jauh lebih besar. Tapi memang tragedi ini diluar prediksi,” ujarnya.
Menteri Kesehatan Arab Saudi Khalel al-Falih menyatakan, tragedi Mina bisa terjadi karena jamaah haji yang tidak disiplin saat beribadah. Menurutnya, banyak jamaah yang bergerak tanpa mengindahkan jadwal pelembaran jumrah. Padahal jadwal tersebut sudah dibuat dan diatur sedemikian rupa oleh otoritas berwenang setempat, tapi jamaah tetap tidak disiplin mengikuti aturan.
