Secara fundamental perekonomian Indonesia saat ini cukup stabil.
Kondisi perekonomian dunia pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Terpilih Amerika Serikat (AS) telah menjadi sorotan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Terbukti Indonesia mengalami imbas dari kondisi tersebut.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Robert Pakpahan berharap sentimen atas terpilihnya Trump sebagai presiden AS tidak berlangsung lama.
“Mudah-mudahan hanya sementara, short term. Kalau lihat fundamental ekonomi seharusnya nggak ya. Karena economic growth-nya (Indonesia) di atas 5 persen dan inflasinya rendah, kursnya juga sudah bagus lagi sudah Rp 13,300 per USD, ” ujar Robert usai the 11th ASEAN Finance Ministers Investors Seminar (AFMIS), di Hotel Mulya, Jakarta, Selasa (15/11).
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Rebert meyakini, Trump Effect juga tidak akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perekonomian Indonesia. Sebab secara fundamental perekonomian Indonesia saat ini cukup stabil.
Robert berharap, Trump Effect ini sentimen yang short term, tidak ada yang secara fundamental di Indonesia yang berubah, secara politik maupun ekonomi.
“Fundamental ekonomi Indonesia nggak ada perubahan tidak ada ancaman ke depan juga. Memang ini kejadian di US saja, orang repositioning karena dia lihat portofolionya dikaitkan dengan apa yang terjadi di US, apa yang terjadi di emarging market yang lain. Itu sih yang terjadi.Kita harapkan tidak ada yang secara fundamental di Indonesia yang berubah,” tegas Robert.
