Di beberapa Rohis sekolah, Ustad Bachtiar Nasir (UBN) dan Habib Rizieq Shihab paling popular.
Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag), Abdurrahman Mas’ud mengatakan, saat ini idola anak muda telah mulai bergeser dari yang awalnya merujuk ke tokoh moderat menjadi ke tokoh radikal.
Mas’ud pun mencontohkan, seperti anak muda yang aktif di Rohis sekolah, kini sudah banyak yang merujuk para tokoh-tokoh yang bisa memunculkan paham-paham radikal. Rohis, misalnya dari Balitbang Semarang itu menemukan terjadi shiff idola anak muda sekarang, dari radikalisme itu muncul . Anak SMA favorit rujukannya berubah tokohnya itu tahun 2017.
Menurut dia, beberapa Rohis sekolah di Yogyakarta dan Semarang itu, tokoh seperti Quraish Shihab dan Gus Mus tidak populer lagi di mata aktivis Jawa Tengah (Jateng). Yang setengah pupoler itu Hasyim Muzadi, Gus Dur. ”Justru paling populer adalah Ustad Bachtiar Nasir (UBN) dan Habib Rizieq Shihab,” kata Mas’ud pada kegiatan laporan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan 2016 di Jakarta, Selasa (28/11).
- “D-8 Halal Expo Indonesia 2026”, Tegaskan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Ekonomi Halal
- BSI Catat Penjualan Emas Tembus 2 Ton, Nasabah Nikmati Kenaikan Harga
- Musim Dingin di Palestina, BMM Kirim Relawan Untuk Distribusi Bantuan Kemanusiaan
- CIMB Niaga Luncurkan CIMB Private Wealth, Standar Baru Pengelolaan Kekayaan Nasabah HNWI
Melihat fenomena tersebut, sebut dia, maka saat ini perlu untuk mengonter pemahaman-pemahaman keagamaan di sekolah tersebut. Salah satunya, dengan cara menata Rohis dan memasukkan penyuluh keagamaan.
”Dengan penataan Rohis, saat ini tidak terkontrol. Dari temuan kami, itu perlu masuknya para penyuluh ke sekolah. Kalau Rohis ini kan penyuluh Islam. Jadi perlu penyuluh yang lebih tahu,” papar Mas’ud.
Dia menambahkan, mentoring Rohis di sekolah selama ini tidak pernah disaring. Karena yang dijadikan mentor adalah alumni-alumni sekolah yang belum jelas pemahaman keagamaannya dan ideologi mereka tidak jelas.
”Bukan ideologi yang memahami soal keislaman dan keindonesiaan, tapi dianggap berhasil dan dijadikan mentor di sana,” pungkas Mas’ud.

