Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai untuk mempersatukan umat Islam dibutuhkan instrumen gerakan yang integral. Diharapkan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI ini memperkuat persatuan umat Islam di segala bidang.

Ketua Umum MUI Din Syamsudin menilai kondisi umat Islam Indonesia terkesan menjadi entitas yang tertinggal dalam segala bidang kebidupan baik politik, ekonomi, teknologi dan sosial budaya. “Umat Islam bisa dipersatukan untuk mewujudkan kondisi tersebut,” kata Din, dalam konferensi pres di kantor MUI Pusat Jakarta, Kamis (8/1).
Menurutnya, untuk mempersatukan umat Islam dibutuhkan instrument gerakan yang integral. Sehingga mampu mengakomodasi kepentingan Islam di Indonesia dalam berbagai kehiduoan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, ia berharap Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI ini dapat menyelesaikan dan membangun Islam yang lebih kuat diberbagai bidang di Indonesia.
“Umat Islam Indonesia tetap menjadi pilar utama penjaga komitmen kehidupan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika itulah tantangan dalam penguatan politik Islam,” kata Din.
Ia juga menjelaskan, penguatan peran ekonomi umat Islam terlihat dari kontribusi dan totalitas umat dalam merintis berdirinya NKRI. Maka, selayaknya sudah dapat dirasakan dalam pembanguanan ekonomi nasional secara maksimal. Namun, realita menunjukkan justru umat Islam tertinggalkan dalam sistem ekonomi nasional yang kurang berpihak kepada pemberdayaan masyarakat Islam. [su_pullquote align=”right”]“Umat Islam tertinggalkan dalam sistem ekonomi nasional yang kurang berpihak.” [/su_pullquote]
Menurutnya, KUII merupakan acara terbesar di atas muktamar munas parpol maupun kongres ormas Islam. Karena kongres ini melibatkan seluruh elemen umat Islam Indonesia untuk penguatan peran umat Islam dalam tiga isu yakni politik, ekonomi dan sosial budaya. “Umat harus melakukan konsolidasi di internal maupun kebangsaan, sehingga umat Islam tetap berperan sebagai faktor penentu kemerdekaan,” pungkasnya. Baca juga: Ormas Islam Harus Bersatu Hadapi MEA

