Kepemimpinan baru Jakarta terlihat memberi harapan baru untuk perubahan kebijakan kota ke depan.
Namun, kepempimpinan dan kebijakan kota tentu tidak akan cukup. Maka, dibutuhkan uluran tangan dari seluruh warga masyarakat agar sebuah kota benar-benar berubah.
Gaya hidup yang super padat menjadi tren masyarakat kota saat ini. Namun, jika kita hendak merenung sejenak, dan mempelajari sekeliling kita, maka banyak pihak yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Mulai dari pendidikan, akses ekonomi, penguatan ketrampilan, berbagi pengalaman serta ilmu, dan lain sebagainya. Bersama Dompet Dhuafa, dalam diskusi ini kita mengajak para profesional muda, pegiat sosial, dan sosialita untuk menggagas Urban Volunteerism, sebuah gerakan kesukarelawan untuk mengatasi berbagai masalah perkotaan atau lingkungan terdekat kita.
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
- Prudential Syariah Luncurkan PRUHeritage Syariah Essential Plan USD, Nilai Proteksi Meningkat hingga 150%
Bersama Dompet Dhuafa mengajak para profesional muda, pegiat sosial, dan sosialita untuk berdiskusi menggagas cara menyiasati problematika kota dengan Urban Volunteerism di Warung Pasta Kemang, Jakarta (30/11/2017).
Urban Volunteerism merupakan sebuah gerakan kesukarelawan untuk mengatasi berbagai masalah perkotaan atau lingkungan terdekat kita. Menurut Bambang Suherman selaku Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Duafa menyatakan bahwa nilai kerelawanan mampu mengikat simpul-simpul masyarakat menjadi kesatuan.
“Kerelawanan adalah warisan produktif nenek moyang kita sebagai bangsa. Nilai kerelawananlah yang mengikat simpul-simpul masyarakat sehingga menjadi satu kerukunan dan saling menanggung,” ujar Bambang.
Bambang juga mengungkapkan ruang-ruang sebagai manusia mulai hilang akibat kesibukan aktifitas masyarakat sehari-hari. Masyarakat perkotaan terjebak dalam monotonisme dengan kerjaan senin hingga jumat. Akhirnya menghilangkan aspek kemanusiaan.
Bambang Suherman selaku Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Duafa memaparkan “nilai-nilai tersebut mulai terkikis bersamaan dengan pesatnya pembangunan kota. Aktifitas masyarakat kota yang sibuk dengan pekerjaan menjadi tren kehidupan. Kemudian, masyarakat kota yang mulai individualis mulai sulit untuk diajak bergotong-royong.”
“Aspek ini semakin langka padahal inilah yang sebenarnya mempertahankan kewarasan kita sebagai makhluk sosial,” ujarnya dalam diskusi Urban Volunteerism, Solusi Problematik Kota Berbasis Kerelawanan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (30/11/2017).
Menurut Bambang mengembangkan kesukarelawanan tidak perlu datang ke tempat bencana tetapi bisa di kota kita hidup. Setiap orang bisa mengembangkan ruang kerelawanan di kota (urban volunteerism).
“Kerelawanan menjaga nilai-nilai kemanusiaan masyarakat kota. Kerelawanan hadir untuk memastikan masyarakat kota tetap saling membutuhkan, berinteraksi dan hidup sebagai makhluk sosial,” kata Bambang.
Terakhir Bambang menambahkan setiap orang pasti terjebak dalam masalahnya sendiri. Padahal masih ada orang lain yang lebih menderita. Maka untuk bisa menyelesaikan masalah sendiri maka bantu selesaikan masalah orang lain.


