Surat kabar Vatikan mengecam sampul depan edisi spesial majalah Satir Perancis Charlie Hebdo karena menampilkan gambar ilustrasi Tuhan membawa senjata.

Pada sampul tersebut, digambarkan sosok seorang pria janggut yang merepresntasikan Tuhan, dengan mengegendong sebuah senjata api laras panjang di punggungnya. Majalah bergambar ilustrasi yang diterbitan pada Rabu (6/1) itu berbunyi : ”Satu tahun berlalu : Pembunuh masih di luar sana.”
Ya tepat setahun lalu, 7 Januari 2015, dua orang bersenjata menewaskan 12 awak redaksi di kantor majalah Satir, yang terletak di ibukota Perancis. Edisi terbaru majalah itu, menyalahkan aksi kekerasan yang terjadi di Perancis sepanjang tahun 2015 kepada fundamentalis Islam, agama-agama yang terorganisir, pemerintah, dan juga intelejen.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Ilustari edisi barunya itu pun menumpahkan banyak kritik. Salah satunya dari surat kabar Vatikan daily Osservatore Romano. Surat kabar Vatikan, menyebut majalah Satir itu lupa bahwa para pemimpin agama dari semua agama telah berulang kali menolak aksi kekerasan atas nama agama, di tengah arus sekularisme yang tanpa kompromi.
”Di balik bendera sekularisme yang menipu tanpa kompromi. Majalah mingguan ini melupakan, sekali lagi apa yang telah berulang kali diserukan pemimpin agama untuk menolak kekerasan atas nama agama, menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kebencian adalah penghujat sesungguhnya, sebagaimana telah ditekankan oleh Paus Fransiskus beberapa kali.” Begitu bunyi salah satu bagian dari artikel di surat kabar Vatikan.
Ya memang, setelah serangan Januari 2015 itu, Paus Fransiskus telah melontarkan pernyataan serupa. Menurut Paus, melakukan aksi pembunuhan atas nama Tuhan adalah sebuah absurditas. Tapi, melakukan perlawanan terhadap agama menghina pemeluk lain.
Komentar lain yang berbunyi di surat kabar Vatikan, yakni :” Dalam pandangan Charlie Hebdo, ada paradoks menyedihkan dari dunia yang semakin sensitif tentang benar secara politis, hampir ke titik mengejek. Namun tidak ingin mengakui atau menghormati pemeluk iman yang percaya Tuhan, tak menghiraukan agama.”

