Transaksi pasar uang antarbank syariah paling tinggi sebesar Rp 1 triliun.
Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) Rifki Ismal mengatakan, industri perbankan syariah tercatat masih membukukan volume transaksi pasar uang yang rendah jika dibanding pasar uang konvensional. Secara rata-rata, transaksi normal antarbank syariah antara Rp 600 triliun-Rp 800 triliun.
“Volume transaksi pasar uang syariah masih jauh tertinggal dibanding pasar uang konvensional. Paling tinggi transaksi antar bank syariah Rp 1 triliun, sementara konvensional bisa diatas Rp 10 triliun-Rp 15 triliun. Ini menjadi suatu pemikiran bagi kami bagaimana lembaga keuangan syariah bisa lebih aktif di pasar uang syariah,” paparnya.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini instrumen pasar uang syariah yang paling banyak dipraktekkan oleh bank syariah adalah Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank Syariah. Sementara, Sertifikat Perdagangan Komoditi Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank masih kurang diminati pelaku pasar.
Dalam rangka menambah volume transaksi pasar uang syariah, pada tahun lalu BI pun mengeluarkan aturan tentang repo syariah. Disini bank yang membutuhkan likuiditas tinggal menjual surat berharga yang dimilikinya, baik surat berharga syariah negara maupun sukuk korporasi, kepada bank yang kelebihan likuiditas.
“Bank lalu akan mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya, tapi surat berharga tadi harus dibeli lagi dengan saling berjanji. Repo syariah ini bisa digunakan juga antarbank konvensional kalau yang dijualnya adalah sukuk. Kami pantau transaksinya di sistem dan sudah ada beberapa bank melakukan transaksi repo syariah,” jelas Rifki.
Selain repo syariah, lanjut Rifki, BI juga telah mengeluarkan mini MRA (Master Repo Agreement) yang menjadi template repo syariah, bekerja sama dengan pelaku pasar uang syariah. Sementara, ketentuan terbaru lainnya di tahun ini adalah hedging (lindung nilai) syariah.
[bctt tweet=”Selain repo syariah, lanjut Rifki, BI juga telah mengeluarkan mini MRA” username=”my_sharing”]
“Hedging syariah menjadi terobosan terkini dalam upaya pendalaman pasar uang syariah. Mengapa? Pertama dan paling utama adalah untuk mendukung pembiayaan haji. Dana haji di bank syariah jumlahnya sampai ratusan triliun rupiah, tapi kita bayar haji dalam dolar AS, maka ada currency mismatch. Oleh karena itu, kami fasilitasi dengan hedging (tahawwut) dan kami mengeluarkan dua model, yaitu hedging sederhena dan kompleks,” pungkasnya.

