The Wahid Institute bersama Google Indonesia menggelar workshop bertajuk “Picth For Peace”, untuk menyebarkan informasi perdamaian.

Hadir dalam acara ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Direktur Wahid Institute Yenny Wahid, Manager Kebijakan Google Indonesia Shinto Nugroho, penulis buku biografi Gus Dur Greg Barton, aktivis gender Hussein Muhammad, para aktivis media sosial dan blogger.
Dalam sambutannya, Manager Kebijakan Publik Google Indonesia Shinto Nugroho mengatakan bahwa media sosial yang saat ini menjadi basis penyebaran informasi mempunyai peran yang sangat strategis. “Bisa dikatakan para pengguna media sosial yang didominasi anak-anak muda sudah berada pada tingkat Digital Native,” kata Shinto.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Sementara itu, Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menyatakan, bahwa peran generasi muda untuk menyebarkan informasi yang damai dan mendidik sangatlah penting. Menurutnya, berbagai ancaman yang berbau intoleransi sangat mudah menyebar di dunia maya. “Banggalah menjadi anak Indonesia, karena peran anak muda yang mencintai negara dan bangsanya sangat penting dalam penyebaran informasi damai di internet,” kata Yenny dalam sambutannya.
Yenny pun mengungkapkan penelitian kecil yang dilakukan lembaganya. Menurutnya, mereka menemukan bahwa sentiment-sentimen yang bersifat intoleransi berkembang menjadi ekstremisme dan kemudian menjadi aksi terorisme. Penyebaran informasi terjadi di dunia maya, terutama di media sosial.
“Pesan-pesan ekstrem mudah beredar luas di internet. Jadi, kita pelu menghadangnya dengan mengenalan nilai-nilai keagamaan yang positif,” ujarnya. Caranya, kata Yenny, dengan mengajak masyarakat terutama generasi muda yang mengenal dunia digital sedari awal (digital native), untuk lebih aktif menyebar pesan toleransi. “Musuh utama kita adalah rasa takut, apatisme, dan cuek. Padahal, ini adalah masalah kita semua,” tegasnya.

