Wirausaha Kooperatif, Pola Bisnis Tanpa Tamak

[sc name="adsensepostbottom"]

Indonesia harus mengembangkan wirausaha kooperatif yang mengoperasikan aneka usaha dari hulu ke hilir. Pola bisnis seperti ini tidak tamak, karena membuat ekonomi pengusaha kecil bergerak.

nastarDirektur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam (CIBEST) IPB Irfan Syauq Beik mengatakan, saat ini para pengusaha cenderung ingin menguasai bisnis dari hulu ke hilir. “Model ini seperti ini tidak cocok dengan Indonesia,” kata Irfan kepada MySharing, saat ditemui di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, sudah saatnya pola yang dikembangkan adalah wirausaha kooperatif (coorporatif enterpreuner), yakni pengusaha yang mengoperasikan aneka usaha dari hulu ke hilir. Mereka itu tidak perlu memproduksi sendiri, tapi cukup memanfaatkan yang ada sehingga semua orang bisa berpartisipasi. “ Ini akan menjadi komunitas besar dan jadi kekuatan. Pengusaha Muslim harus kuat di sana,” kata Irfan.

Wirausaha kooperatif, lanjutnya, bisa sekelompok orang atau perusahaan yang tidak mengambil usaha dari hulu hingga hilir, tapi adalah mengharmonisasikan para pelaku industri yang bersifat ekonomi. Misalnya, kata Irfan, perusahaan kue. Perusahaan ini bekerjasama dengan industri kue yang ada tanpa perlu membuat pabrik lagi, memanfaatkan yang ada. Sebab, banyak produsen kecil yang punya produk bagus, tetapi tidak tahu cara memasarkannya. “Masalah pengusaha kecil adalah saat akan masuk pasar, mereka bersaing dengan pengusaha besar,” tukasnya.

Menurutnya, kanal jual beli daring (e-commerce),   bisa memfasilitasi usaha mikro dan menjaga keberlangsungan produksi mereka. Karena, bagi pengusaha mikro yang terpenting bisa menjual barangnya. Karena sangat sulit jika hanya produksi, tapi barang tidak terjual. Kanal jual beli daring akan membuat ekonomi pengusaha kecil bergerak.

“Jadi tidak tamak. Kita itu rakus, menghabiskan semua dari hulu ke hilir. Wirausaha kooperatif ini muncul ditengah kondisi seperti ini untuk memperdayakan pengusaha kecil. Mereka harus didukung dan diperbanyak jumlahnya agar ekonomi jadi adil,”  kata Irvan.

Ia menuturkan, Indonesia tidak kurang potensi soal sektor riil. Makanan halal Indonesia itu potensialnya tidak kurang dari 100 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Indonesia pun menjadi referensi halal dunia.

Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa model hiburan seperti pariwisata syariah menjadi fokus pemerintah saat ini. Demikian pula dengan perkembangan fashion Muslimah sangat luar biasa. Pendekatannya pun berbeda-beda bukan dengan kata-kata kewajiban, tapi kecantikan. Selain itu juga keuangan syariah yang tidak hanya soal komersial, tapi juga keuangan sosial. ”Studi IPB dan Baznas menunjukkan, potensi zakat Indonesia mencapai Rp 217 triliun,” pungkasnya.