Yuslam Fauzi

Yuslam Fauzi: Perbankan Syariah Harus Mensejahterakan Masyarakat

[sc name="adsensepostbottom"]

Bila dijalankan dengan optimal, industri perbankan syariah bisa meningkatkan dan mengangkat kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia. Namun demikian, para pelaku di industri ini harus mempunyai visi yang sama terlebih dahulu, agar bisa bersama-sama saling bahu membahu mengembangkan industri perbankan syariah ke arah yang lebih baik.

Yuslam Fauzi
Yuslam Fauzi

Industri perbankan syariah di tanah air sudah berjalan selama lebih dari dua puluh tahun. Namun demikian, sampai kini pertumbuhannya masih stagnan saja, kalau tidak boleh dibilang lamban. Hingga akhir 2014 lalu. aset perbankan syariah jika dibandingkan aset keseluruhan perbankan nasional, masih berada di kisaran 5% saja. Sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan, karena hal itu menandakan industri ini masih tumbuh dengan tertatih-tatih.

Praktisi perbankan syariah – Yuslam Fauzi saat ditemui MySharing dalam sebuah seminar ekonomi syariah hari ini di Jakarta mengatakan, untuk bisa mengangkat industri perbankan syariah ke arah pertumbuhan yang lebih baik, maka diperlukan kesamaan visi dari para praktisi atau pelaku perbankan syariah di tanah air.

“Jangan lupa kita sedang mengembangkan suatu sistem ekonomi dan keuangan buat mensejahterakan masyarakat. Ini adalah jantungnya dakwah. Perbankan syariah akan bisa maju, kalau kita sudah punya visi yang sama. Ukhuwah bisa terjalin kalau kita sudah punya visi yang sama untuk dakwah ini,” papar Yuslam dengan bersemangat.

Menurut Yuslam, dirinya selalu berusaha memberikan spirit kepada para rekan-rekannya penggiat industri perbankan syariah untuk bisa bersama-sama memajukan industri perbankan syariah sebagai bagian dari dakwah ekonomi Islam yang dampaknya sangat besar bagi masyarakat, yaitu menuju kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Saya selalu mengajak teman-teman semua, bahwa kita semua adalah pilihan Tuhan untuk berada di sebuah jantung dari jantungnya dakwah. Dakwah Islam kan konotasinya bukan hanya dengan ceramah. Ada dakwah yang konteksnya untuk kesejahteraan ummat, agar ekonomi masyarakat berkembang yaitu dakwah di bidang ekonomi, keuangan dan perbankan. Keuangan itu jantungnya ekonomi, perbankan itu jantungnya keuangan. Jadi ini merupakan jantungnya gerakan dakwah,” papar Yuslam lagi panjang lebar.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Yuslam, bahwa dakwah Islam dengan ekonomi itu tidak bisa dipisahkan. “Sunnah dakwah itu dari jaman Nabi Muhammad Saw kan membangun pasar, yaitu di Madinah ada pasar disekelling mesjid. Nah, ketika wali songo berdakwah di Indonesia, mereka juga membangun pasar di sekeliling mesjid. Jadi antara pasar dengan Islam tidak bisa dipisahkan,” ujar Yuslam lagi.

Intinya menurut Yuslam, perjuangan dakwah itu tidak hanya dengan mengajak orang untuk berbuat kebaikan, namun lebih sempurnanya adalah mengajak masyarakat untuk menjadi sejahtera kehidupannya (ekonominya).

“Bahwa kita bergerak mengembangkan perbankan syariah, jangan hanya di mindset kita saja, atau cuma berkutat di masalah fiqih halal dan haram, atau boleh tidak boleh. Namun jantungnya syariah itu, atau tujuan dari dakwah itu sendiri adalah kesejahteraan masyarakat. Karena sesungguhnya Allah menurunkan syariah Islam ke muka bumi ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ummat manusia. Jadi visi inilah yang harus kita samakan didalam mengembangkan perbankan syariah,” demikian tegas Yuslam Fauzi menutup pembicaraan.