Pakar Ekonomi Syariah, Syafi'i Antonio (berdiri), Ketua Pusat Kajian Strategi BAZNAS Irfan Syauqi Beik, dan Pakar Halal Lifestyle & Tourism RIyanto Sofyan pada acara "Outlook DKI Jakarta 2017", di Hotel Sofyan Betawi Menteng, Jakarta, Kamis (22/12). foto:MySharing.

Zakat Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Umat

[sc name="adsensepostbottom"]

Jalan menuju keindahan Islam, adalah menjadikan zakat penyimbang ekonomi umat.

Pakar Ekonomi Syariah, Syafi’i Antonio menuturkan, dalam  ajaran agama Islam, zakat merupakan pilar yang wajib dalam Islam. Tidak hanya berfungsi untuk penyangga, zakat juga bisa digunakan sebagai pendorong peningkatan ekonomi umat.

“Zakat itu justru penyimbang ekonomi. Inilah jalan menuju keindahan Islam dalam upata meningkatkan kesejahteraan umat Muslim,” kata Syafi’i dalam Outlook DKI Jakarta 2017 di Hotel Sofyan, belum lama ini. pekan lalu.

Syafi’i menjelaskan, zakat sebagai penyanggah perekonomian masyarakat, khususnya ditujukan untuk kelas menengah ke bawah. Misalnya, kata dia, ada seseorang mempunyai harta Rp 100 miliar. Lalu, ada kewajiban zakat 2,5 persen yang harus dikeluarkan. Dengan kata lain, yakni ada Rp 2,5 miliar yang akan didistribusikan kepada penerima zakat.

Menurutnya, dengan 2,5 persen tersebut, maka  penerima zakat (masyarakat) bisa berbelanja. Dengan begitu, daya beli masyarakat akan bertambah. Jika daya beli bertambah, akan ada peningkatan kebutuhan barang dan jasa yang berujung pada penyerapan tenaga untuk produksi. ”Ini yang akan menjadikan pertumbuhan ekonomi umat meningkat,” ujar Syafi’i.

Penyaluran Zakat Program Ekonomi

Pada kesempatan ini, Ketua Pusat Kajian Strategis BAZNAS Irfan Syauqi Beik mengatakan, inflansi Indonesia relatif rendah, namun ini tidak diikuti oleh peningkatan daya beli. Inilah menurutnya, yang menjadi masalah sehingga meskipun inflansi terkendali, bahkan diasumsikan 2017 di kisaran 4 persen.

” Ketika daya beli masyarakat turun, maka inflansi tidak membuat masyarakat kemudian memiliki kemampuan lebih dalam melakukan konsumsi,” ujar Irfan.

Dari data konsumsi secara makro, kemampuan masyarakat Indonesia mengalami stagnasi dan cenderung menurun. Oleh karena itu, kata Irfan, harus dipikirkan bagaimana menjaga  daya beli terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah. Karena mereka merupakan kelompok yang paling berdampak ketika terjadi gejolak ekonomi.

Yang perlu dioptimalkan menurut Irfan adalah mendorong instrumen keuangan syariah, dalam hal ini zakat. ”Zakat ini selain instrumen yang ada hubungan ibadah, tapi memiliki sisi sosial ekonomi yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Irfan pun menjelaskan, potensi zakat besar sekali mencapai Rp 217 triliun. Meskipun dilihat dari sisi pertumbuhan per 2015 yakni 3,7 triliun, dan per Agustus 2016 baru mencapai 3,65 triliun. Tapi kalau dibandingkan dengan penghimpunan tahun 2002-2015 rata-rata 2,25 triliun.

”Ini struktur perhimpunan dan penyaluran. Zakat dari Rp 3,65 triliun, rupanya baru disaluarkan Rp 2,25 triliun sampai Agustus 2016. Jadi baru 61,6 persen. Ini pekerja rumah (PR) kita, bagaimana kemudian mendorong zakat ini sebagai instrumen untuk menyanggah kemampuan daya beli masyarakat. Itu bisa dilakukan ketika kemampuan menyalurkan zakat ditingkatkan,” ungkap Irfan.

Kemudian, lanjut dia, kalau dilihat proporsi kelompok penerima zakat, maka yang paling dominan secafra nasional adalah fakir miskin. Ini problem yang kita hadapi. Karena dari Rp 2,25 triliun yang disalurkan itu sekitar 74 persen adalah disalurkan untuk fakir miskin dan fisabilillah, misalnya dunia pendidikan.

Potret ini menurut Irfan menunjukkan  bahwa problem kemiskinan di Indonesia sangat besar. Bahkan Irfan menyebutkan, standar kemiskinan di Indonesia sangat rendah yaitu hanya sekitar 1 dollar per hari. Jadi kalau secara standar nasional itu sekitar Rp 330000.

”Jadi, orang disebut miskin itu kalau pendapatan perkapita perbulan Rp 330000 ribu atau lebih kecil dari itu, dan secara nasional jumlahnya ada 28 juta. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kesenjangan itu sangat tinggi. Transfer mekanisme tidak berjalan dengan baik. Ini PR kita bersama ,” tegas Irfan.

Irfan mengatakan, kalau dari proporsi penyaluran zakat memang yang dominan masih program sosial sebesar 41 persen dan ekonomi 15 persen. Ini juga menjadi pekerja rumah bersama bagaimana kedepannya meningkatkan proposi progrma ekonomi.

”Harapan saya, kalau memang mas Agus (Agus Harimurti Yudhoyodo) terpilih   bisa  mengembangkan program zakat penyaluran secara ekonomi. Sehingga kaum dhuafa itu kemudian punya daya lebih besar pada jangka panjang. Karena mereka memiliki sumber-sumber usaha yang sifatnya produktif,” pungkas Irfan.