Bank Syariah Masih Berkubang di Red Ocean

[sc name="adsensepostbottom"]

Perbankan syariah dinilai sulit bersaing karena penyaluran pembiayaannya masih dominan pada bisnis ritel.

bank dki syariahKepala Penelitian, Pengembangan dan Pengaturan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan, Dhani Gunawan Idat, mengatakan bank syariah dominan di area ritel untuk kebutuhan sehari-hari seperti kendaraan bermotor dan kebutuhan rumah tangga. Sampai Desember 2014 penyebaran segmen pembiayaan perbankan syariah sebagian besar masih berada di kisaran antara Rp 100 juta sampai Rp 2 miliar. “Bank syariah masuk ke area yang sudah padat lalu lintasnya, sudah biaya dananya mahal dan masuk ke area yang padat dengan bank konvensional. Jadi masih masuk ke red ocean, belum masuk ke blue ocean,” ujar Dhani.

Dalam dunia bisnis ada dua area yaitu red ocean dan blue ocean. Red ocean merupakan ruang pasar yang sudah dikenal di pasaran, sedangkan blue ocean adalah menciptakan pasar baru yang belum dimasuki oleh pesaing maupun belum dikenali sebelumnya. Oleh karena itu, OJK pun terus mendorong lembaga keuangan syariah untuk terus berinovasi. Baca: Bingung Inovasi Produk? Ini Solusinya!

Menurut Dhani, ada empat tantangan fundamental pengembangan perbankan syariah. Pertama, bank syariah harus punya size yang besar agar memiliki skala lebih baik, sumber daya manusia mumpuni, mempunyai kemampuan mengembangkan teknologi dan manajemen yang lebih baik. Langkah tersebut dapat dilakukan dengan penambahan modal, peningkatan kapasitas bank syariah oleh bank induk, mendirikan big bank syariah, hingga optimalisasi dana haji dan zakat, infak, sedekah dan wakaf.

Kedua, upaya dalam memperoleh dan mempertahankan nasabah prima. Dhani mengutarakan untuk memperoleh nasabah prima ini literasi keuangan harus terus digalakkan dan segmen pasar pun diperluas. “Menjangkau nasabah prima ini juga maksudnya mempertahankan loyalitas nasabah yang ada, dan meningkatkan jumlah nasabah baru. Jangan sampai nasabah yang sudah ada pergi pindah ke bank konvensional,” jelas Dhani.

Ketiga, menyediakan produk prima, tidak hanya dengan berinovasi produk tetapi juga meningkatkan pelayanan dan teknologi dan kolaborasi pemasaran dan jaringan. Keempat, meningkatkan pembangunan kapasitas melalui program pendidikan dan sertifikasi. Baca: Perkuat Kompetensi Pelaku Industri, AASI Bentuk Lembaga Sertifikasi Profesi