Jumlah pengguna online trading syariah mencapai 9000 orang.
Dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis tingkat literasi dan inklusi pasar modal syariah yang masih sangat rendah. Dari survei yang dilakukan pada tahun lalu tersebut, tingkat literasi pasar modal syariah hanya sebesar 0,02 persen, sedangkan tingkat inklusi 0,01 persen.
Kondisi rendahnya tingkat literasi dan inklusi pasar modal syariah pun diakui oleh Deputi Direktur Pasar Modal Syariah OJK Muhammad Touriq. Menurutnya, jika dibanding industri keuangan syariah lainnya, pasar modal syariah memang relatif masih kecil secara agregat.
Pihaknya pun mulai mengidentifikasi sejumlah hal terkait pengembangan pasar modal syariah. Ia memaparkan, kendati tingkat inklusi pasar modal syariah secara nasional masih rendah, ada kenaikan jumlah investor pengguna online trading syariah yang sangat signifikan pada kurun waktu 2015-2016.
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
- BCA Syariah dan Istiqlal Halal Center Serahkan Sertifikat Halal untuk 49 UMKM
- CIMB Niaga Raih Tiga Penghargaan Bergengsi di Asian Banking & Finance Awards 2026
- Bank Mega Syariah Rayakan Harpelnas 2026 Berikan Layanan Medical Check-Up Gratis untuk Nasabah
“Jumlah investor yang memanfaatkan online trading syariah ada kenaikan 85 persen dari 2015-2016. Pada 2015, ada 4900 investor online trading syariah, sementara sampai kuartal III 2016 investornya sudah mencapai 9000 orang, jadi ada kenaikan 85 persen,” ungkap Touriq kepada MySharing, pertengahan pekan ini.
Selain itu, kenaikan jumlah investor juga terjadi di reksa dana syariah, meski tak sesignifikan investor saham syariah. “Investor reksa dana syariah naik dari 60 ribu menjadi 64 ribu. Walau ternyata kalau disurvei secara nasional (inklusinya) hanya 0,01 persen, tapi kami gembira ada kenaikan investor saham. Mungkin ini ada pengaruh dari kampanye Yuk Nabung Saham Syariah,” jelasnya.

