Usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi sektor yang mampu diandalkan ketika krisis ekonomi terjadi.

Ia mengungkapkan saat ini penerimaan pajak jeblok karena banyak perusahaan di Indonesia yang pendapatannya menurun. “Namun pasar UKM membesar sekalipun dari 60,5 juta UKM yang sudah bankable baru dua juta, sedangkan sisanya dianggap tidak bankable,” jelas Sugiharto.
Oleh karena itu, MES di tahun ini pun tidak lagi fokus pada fungsi intermediasi lembaga keuangan syariah, namun pada sektor riil. Utamanya membangun sektor riil yang halal dan bermartabat. “Saya optimis ke depan Indonesia akan jauh lebih baik jika peduli pada UKM karena bisa mempertahankan kesinambungan dan persatuan Indonesia,” tukasnya.
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia juga dinilai akan mampu mendorong UKM. Sugiharto menyebutkan dari hasil studi diperkirakan pada 2030 Indonesia akan menjadi the next seven largest economy karena mengalami demografi dividen berusia 16-24 tahun. “67 persen dari penduduk Indonesia ini adalah orang produktif. Sampai 2030 golongan menengah akan menjadi 135 juta orang dan akan menjadi enzim konsumsi produksi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Di sisi lain, lanjutnya, untuk mengatasi kemiskinan dan kesenjangan pun perlu ada sinergi antara pemerintah, pengusaha, lembaga sosial dan masyarakat. Oleh karena itu, MES bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, ESQ, Muhammadiyah, Nadhlatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia dalam Kongres Umat Islam mencanangkan strategi jamaah dengan membangun satu desa satu baitul maal wat tamwil.
“Kami ingin membangun satu desa satu BMT satu desa madani. Desa bangkit, maju dan terbang bagi 74 ribu desa di Indonesia. Insya Allah ini tantangan ke depannya. Satu desa juga menghasilkan satu produk yang tidak hanya halal, tetapi juga thoyyib,” ujar Sugiharto, yang optimis terhadap prospek tersebut mengingat meningkatnya pula jumlah kelas menengah di Indonesia.

