Jepang melihat halal sebagai potensi industri yang menggiurkan. Untuk itulah, para pengusaha Jepang yang bergabung dalam Misi Investasi Jepang berkunjung ke Global Halal Centre (GHC) di Bogor. Rombongan ini mempelajari tentang kaidah halal.

Jepang terkenal sebagai produsen utama elektronik dan otomotif, tidak memandang negatif naiknya populasi Muslim di negaranya. Sebaliknya, mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkuat bisnis halal. Asosiasi Halal Jepang menyebut ada kenaikan jumlah restoran atau kafe halal di Jepang. Kenaikan itu mencapai 10 persen.
Sehingga tak heran, kalau minat dan perhatian dunia usaha serta media massa Jepang terhadap produk halal terus meningkat beberapa tahun belakangan ini. Untuk memanfaatkan peluang ini, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tokyo, bersinergi dan berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan bekerjasama dengan ASEAN-Japan Centre, merancang program pengiriman Misi Investasi Jepang ke Indonesia, setiap tahunnya.
Pada tahun 2014 ini, pengiriman Misi Investasi Jepang ke Indonesia diagendakan ke Global Halal Centre (GHC) di Bogor. Kunjungan pun telah dilakukan pada Rabu (8/10) kemarin.
Sekretaris Pertama KBRI Tokyo, Hari Prabowo mendampingi rombongan Misi Investasi Jepang yang terdiri dari para pengusaha, perwakilan beberapa provinsi di Jepang serta jurnalis terkemuka Jepang. “ Karena berkaitan dengan halal, kami agendakan kunjungan Misi Investasi Jepang ke GHC sebagai kantor LPPOM MUI,” kata Sekretaris Pertama KBRI Tokyo, Hari Prabowo, dalam siaran pers yang diterima MySharing, Kamis (9/10).
Project Officer, Trade and Investments Division, ASEAN-Japang Centre, Hiroko Hashizume mengaku kurang memahami tentang kultur Islam, terlebih lagi tentang kaidah halal. Sementara negara Jepang melihat halal, kini menjadi potensi industri yang menggiurkan dari sisi bisnis. “Oleh karena itu, kami berkunjung ke LPPOM MUI untuk mempelajari tentang aspek-aspek sertifikasi halal yang bagi kami merupakan tantangan sekaligus menawarkan peluang yang terus berkembang dan menggiurkan,” tegas Hiroko.
Kepala Bidang Standar Halal LPPOM MUI, Ir Hendra Utama, menyambut baik rombongan Misi Investasi Jepang untuk mengembangkan investasi di Indonesia. Pada kesempatan ini, Hendra menjelaskan tentang pengertian dan kriteria halal yang telah ditetapkan oleh MUI.
Hendra juga memaparkan tentang prosedur, persyaratan dalam sertifikasi halal (SH), dan sistem jaminan halal yang berlaku, serta penetapan fatwa oleh Komisi Fatwa MUI. Termasuk proses pendaftaraan sertifikasi halal yang dapat dilakukan secara online, dengan aplikasi Certification Online Service System (CEROl-SS23000).
Mendengar penjelasan tersebut, rombongan Misi Investasi Jepang sangat antusias. Mereka bisa memahami tentang hal-hal yang semula ditanyakan, dan mengakui serta mengapresiasikan kiprah yang dilakukan oleh LPPOM MUI, terutama dalam proses sertifikasi halal.
Sementara Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim menyatakan, pihak KBRI Tokyo yang memfasilitasi kedatangan pengusaha Jepang yang bergabung dalam Misi Inventasi Jepang ke GHC. Diharapkan para pengusaha Jepang dapat mengetahui proses sertifikasi halal di Indonesia, dan berharap bahwa produk mereka bisa masuk pasar Indonesia.
“Kami juga berharap kalau produk mereka sudah disertifikasi halal oleh MUI, ketika masuk ke negara lainnya tidak perlu lagi disertifikasi oleh lembaga sertifikasi halal yang ada di negara tersebut,” tegas Lukman, saat dihubungi MySharing, Kamis (9/10).
Lebih lanjut Lukman menyatakan harapannya atas kunjungan misi investasi Jepang ini, terutama KBRI bisa menjadi fasilitator informasi mengenai halal untuk pengusaha di Jepang.

