Manusia sebagai hamba Allah swt. harus mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, baik secara lahir maupun batin. Perbuatan lahir dari manusia merupakan gambaran perbuatan batin yang disebut iman, dan sekaligus menjadi ukuran bagi keimanan seseorang. Apa-apa yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada manusia menandakan bahwa perbuatan tersebut adalah baik dan bermanfaat bagi kehidupannya, dan apa-apa yang dilarang oleh Allah swt. menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah buruk dan merusak kehidupan manusia itu sendiri.
[su_box title=” Seri ‘Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam’ oleh Muhammad Zaki, Ketua Prodi Ekonomi Syariah STAI Yasni Muara Bungo.Ini adalah bagian 1″ style=”soft” box_color=”#cc3333″ radius=”5″]
- Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam
- Pengertian Fikih Secara Bahasa dan Istilah
- Ruang Lingkup dan Objek Kajian Fikih 3
- Usul Fikih: Pengertian Secara Bahasa
- Ruang Lingkup dan Objek Kajian Usul Fikih
- al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah
- Kedudukan Fikih, Usul Fikih dan al-Qawa’id al-Fiqhiyyah dalam Ekonomi Syariah
[/su_box]
Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah swt. berkenaan dengan tindak perbuatan manusia disebut hukum syarak. Kehendak Allah swt. dapat ditemukan dalam kumpulan wahyu-Nya yang disebut Alquran dan penjelasan yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw. dalam hadis atau sunnah. Hukum syarak merupakan pedoman pokok yang berbentuk petunjuk umum dan terdiri dari garis-garis besar, serta menurut apa adanya, sehingga belum dapat dilaksanakan secara amaliah. Petunjuk Allah swt. perlu dijabarkan dalam bentuk petunjuk operasional secara rinci dan mudah untuk diamalkan yang disebut fikih. Dengan demikian fikih merupakan peraturan pelaksanaan hukum syarak dan sangat berkaitan erat dengan kajian syariat Islam.
Dalam memahami dan merumuskan hukum syarak yang bersumber dari Alquran dan hadis diperlukan kaedah khusus, agar terjaga dari kesalahan dan penyimpangan. Kaidah dalam memahami dan merumuskan hukum syarak ini disebut dengan usul fikih. Perumusan ilmu usul fikih dilakukan setelah penyusunan ilmu fikih, walaupun kemunculan kedua ilmu tersebut bersamaan. Sesungguhnya keberadaan fikih harus didahului oleh keberadaan usul fikih, karena usul fikih merupakan kaedah dan ketentuan yang harus diikuti oleh mujtahid pada saat menghasilkan fikihnya.[su_pullquote align=”right”]”Makalah ini merupakan kajian literatur atau pustaka yang bertujuan untuk menjelaskan secara ringkas tentang pengertian fikih, usul fikih, dan al-qawa‘id al-fiqhiyyah, serta proses terbentuk, ruang lingkup pembahasan dan objek kajiannya masing-masing.”[/su_pullquote]
Perumusan hukum syarak selain memerlukan kaedah khusus (usul fikih) juga selalu berlandaskan kepada dasar-dasar pembuatan syariat yang umum, yakni tidak memberatkan, tidak memperbanyak beban, berangsur-angsur dalam menetapkan hukum dan sejalan dengan kebaikan orang banyak. Jika dikaitkan dengan kaedah-kaedah usuliyah yang merupakan pedoman dalam menggali hukum syarak, maka kaedah fikih (al–qawa‘id al-fiqhiyyah) merupakan kelanjutannya sebagai petunjuk operasional dalam peng-istinbat-an hukum dalam syariat Islam. Usul asy-Syari‘ah (dasar-dasar hukum syarak) menurut Imam Ahmad bin Idris al-Qurafi terdiri atas dua bagian. Pertama, apa yang disebut dengan usul al-fiqh dan kedua, al–qawa‘id al-fiqhiyyah atau kaedah-kaedah fikih,[1] yang kedua-duanya memiliki definisi dan fungsi tersendiri.
al-Qawa‘id al-fiqhiyyah ini, selain berfungsi sebagai tempat bagi para mujtahid mengembalikan seluruh seluk beluk masalah fikih juga sebagai kaedah (dalil) untuk menetapkan masalah-masalah baru yang tidak ditunjuk oleh nas yang sarih yang sangat memerlukan untuk ditentukan hukumnya. Oleh karena itu, setiap orang yang sanggup menguasai al-qawa‘id al-fiqhiyyah niscaya mampu menguasai seluruh bagian masalah fikih dan sanggup menetapkan ketentuan hukum setiap peristiwa yang belum atau tidak ada nasnya.
Makalah ini merupakan kajian literatur atau pustaka yang bertujuan untuk menjelaskan secara ringkas tentang pengertian fikih, usul fikih, dan al-qawa‘id al-fiqhiyyah, serta proses terbentuk, ruang lingkup pembahasan dan objek kajiannya masing-masing.
[1] Mukhtar Yahya dan Fatchur Rahman, Dasar–Dasar Pembinaan Fikih Islam, (Bandung: Alma’arif, 1986), hlm. 485.


