Usul Fikih: Pengertian Secara Bahasa

[sc name="adsensepostbottom"]

usul fikih dan ekonomi islam

Usul fikih berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu al-Usul dan al-Fiqh. al-Usul adalah jamak dari kata al-aslu الأَصْلُ, menurut bahasa berarti مَا يُبِنىَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ (landasan tempat membangun sesuatu).
[su_box title=” Seri ‘Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam’ oleh Muhammad Zaki, Ketua Prodi Ekonomi Syariah STAI Yasni Muara Bungo.Ini adalah bagian 4.” style=”soft” box_color=”#cc3333″ radius=”5″]

  1. Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam
  2. Pengertian Fikih Secara Bahasa dan Istilah
  3. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Fikih 3
  4. Usul Fikih: Pengertian Secara Bahasa
  5. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Usul Fikih
  6. al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah
  7. Kedudukan Fikih, Usul Fikih dan al-Qawa’id al-Fiqhiyyah dalam Ekonomi Syariah

[/su_box]
Menurut istilah, seperti dikemukakan Wahbah az-Zahuili, kata al-as{lu الأَصْلُ mengandung beberapa pengertian, yaitu:

1) Bermakna dalil, seperti dalam contoh:
الأَصْلُ فِى وُجُوْبِ الصَّلَوةِ الكِتَابُ وَالسُّنَّةُ
“Dalil wajib sholat adalah Alquran dan sunnah”
2) Bermakna kaedah umum satu ketentuan yang bersifat umum yang berlaku pada seluruh cakupan, seperti contoh:
بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَليَ خَمْسَةِ أُصُولٍ
“Islam di bangun di atas lima kaedah umum”.
3) Bermakna al-Rajih (yang lebih kuat dari beberapa kemungkinan), seperti contoh:
الأَصْلُ فِي الْكَلاَمِ الحَقِيْقَةُ
“Pengertian yang lebih kuat dari suatu perkataan adalah pengertian hakikatnya”.
4) Bermakna asal, tempat menganalogikan sesuatu yang merupakan salah satu dari rukun qiyas. Misalnya, khamar merupakan asal (tempat mengqiyaskan narkotika).
5) Bermakna sesuatu yang diyakini bilamana terjadi keraguan dalam satu masalah.

Bila kata al-Aslu dihubungkan dengan makna dalil, maka kata usul al-fiqh berarti dalil-dalil fikih, seperti Alquran, sunnah Rasulullah saw., ijma‘, qiyas, dan lain-lain.[1]

a. Pengertian Usul Fikih Sebagai Disiplin Ilmu

Menurut Amir Syarifuddin usul fikih adalah ilmu tentang (pemahaman) kaedah kaedah dan pembahasan yang dapat menghantarkan kepada diperolehnya hukum-hukum syarak mengenai perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang rinci. Sedangkan usul fikih secara istilah teknik hukum adalah ”ilmu tentang kaedah-kaedah yang membawa kepada usaha merumuskn hukum syarak dari dalilnya yang terperinci“ atau dalam arti sederhana adalah ”kaedah-kaedah yang menjelaskan cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya”.

Umpamanya dalam kitab-kitab fikih ditemukan ungkapan, ”mengerjakan sholat itu hukumnya wajib”, wajibnya melakukan sholat itu disebut “hukum syarak”. Tidak pernah tersebut dalam Alquran maupun hadis bahwa sholat itu hukumnya wajib, yang tersebut dalam Alquran hanyalah perintah mengerjakan sholat yang berbunyi:

اَقِيْمُوا الصَّلاَ ةَ
Artinya: ”Kerjakanlah sholat

Ayat Alquran yang mengandung perintah mengerjakan sholat itu disebut ”dalil syarak”, dan untuk merumuskan kewajiban sholat yang disebutkan oleh “hukum syarak tersebut dibutuhkan aturan dalam bentuk kaidah, seperti kaedah: ”setiap perintah itu menunjukkan wajib”. Pengetahuan tentang kaedah-kaedah yang menjelaskan cara-cara mengeluarkan hukum dari dalil-dalil syara tersebut disebut ”ilmu usul fikih”.[2]

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa usul fikih adalah seperangkat pedoman, aturan-aturan atau kaedah-kaedah yang membatasi dan menjelaskan cara-cara yang harus diikuti oleh seorang mujtahid dalam upayanya menggali dan melahirkan hukum syarak dari dalil yang telah ada, baik dalam Alquran maupun sunnah.

b. Proses Pembentukan dan Perkembangan Usul Fikih

Usul fikih lahir pada abad kedua dengan keadaan yang masih bercampur dengan pembahasan ilmu fikih. Dalam pertumbuhannya pada tingkat pertama, ilmu usul fikih belum merupakan ilmu yang berdiri sendiri, melainkan terserak-serak dalam kitab-kitab fikih yang difungsikan oleh fuqaha’ sebagai argumentasi menetapkan hukum fikih serta untuk menerangkan cara-cara mengambil hukum dari dalil-dalil yang dikemukakan.[su_pullquote align=”right”]”Umpamanya dalam kitab-kitab fikih ditemukan ungkapan, ”mengerjakan sholat itu hukumnya wajib”, wajibnya melakukan sholat itu disebut “hukum syarak””[/su_pullquote]

Menurut Ibnu Nadim, orang pertama yang mengumpulkan tulisan usul fikih yang masih bercampur dalam kodifikasi fikih Islam menjadi satu perangkat ilmu yang terpisah dan berdiri sendiri adalah Abu Yusuf yang merupakan salah seorang murid Imam Abu Hanifah. Sedangkan yang pertama-tama mengkodifikasi pembahasan dan kaedah-kaedah ilmu usul fikih dalam satu kitab yang sangat berharga dan dapat dikaji oleh generasi sekarang adalah al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i (150–2014 H). Karya beliau yang kemudian dituturkan kembali oleh muridnya, ar-Rabi‘ al-Muradi, bernama ar-Risalah.[3]

[1] Satria Effendi dan M. Zaeni, op.cit, hlm. 2.
[2] Amir Syarifuddin, Ushul…, op.cit, hlm. 34-35.
[3] Mukhtar Yahya dan Fatchur Rahman, op.cit, hlm. 21-22.