Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau Indonesia memanfaatkan Konferensi Asia Afrika (KAA) untuk menyelesaikan konflik Yaman.

Menurutnya, Indonesia harus menjadi mediator konflik Yaman. Caranya, dengan mengundang Iran, Yaman dan Arab Saudi serta kelompok yang bertikai datang ke Indonesia untuk berunding menyelesaikan konflik.
Ini kata Muhyiddin, mengingat Indonesia tidak terlibat, masih netral. Kalau Saudi, Iran dan Kuwait tidak netral lagi karena mereka terlibat dalam peperangan. ”Maka Indonesia saatnya menunjukkan kapasitasnya sebagai the Leading Muslim Nation Indonesia negara Muslim terkemuka yang bisa mendamaikan pihak-pihak bertikai,” kata Muhyiddin, kepada MySharing saat ditemui di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (23/4). Baca: Inilah Pesan Moral MUI untuk Negara Yang Bertikai.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Ia mengungkapkan, Indonesia sudah pengalamanan dengan mendamaikan konflik di Kamboja, Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Maka momentum Konferensi Asia Afrika (KAA) ke 60 tahun sangat penting, mengingat Indonesia sebagai pemakarsa. ”Tiba waktunya Indonesia menunjukkan kepada dunia international. Inilah Indonesia yang sudah mampu mendamaikan negara-negara bertikai. Tapi berpulang apakah Presiden Joko Widodo berani atau tidak?,” tukas Muhyuddin.
MUI berharap Indonesia bisa tampil sebagai mediator konflik Yaman. Apalagi hubungan Indonesia dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk sangat bagus. Menurutnya, inilah saatnya Indonesia berbicara di kancah international. Karena, kesempatan hanya datang satu kali, dan tidak akan kembali lagi.
MUI mendorong sepenuhnya pemerintah Indonesia memanfaatkan KAA untuk mendesak penyelesaian konflik Yaman, karena penting bagi umat Islam. Karena kalau dibiarkan berlarut, korban akan bertambah dan kerugian juga berlipat ganda. ”Mungkin berikan kepada Jusuf Kalla (JK) yang sudah berpengalaman untuk menyelesaikan kasus-kasus seperti ini. Ya bukan saya berarti pro JK,” pungkasnya. Baca: MUI:Konfilik Yaman, Untungkan Yahudi Hancurkan Umat Islam

