Agama dan Kearifan Politik Berperan Ciptakan Perdamaian di Timur Tengah

[sc name="adsensepostbottom"]

Kawasan Timur Tengah acapkali dikaitkan dengan isu konflik yang terus memanas. Bagaimana peran agama dalam mewujudkan perdamaian di kawasan tersebut?

Perintis Jewish-Moeslim Relations AIJAC Jeremy Jones (kedua dari kanan) diapit oleh Sekretaris Prodi PSKTTI UI Cholil Nafis (kanan), Mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Gatot Abdullah Mansyur (tengah) dan Ketua Prodi PSKTTI UI Muhammad Lutfi (kedua dari kiri). Dok: mysharing
Perintis Jewish-Moeslim Relations AIJAC Jeremy Jones (kedua dari kanan) diapit oleh Sekretaris Prodi PSKTTI UI Cholil Nafis (kanan), Mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Gatot Abdullah Mansyur (tengah) dan Ketua Prodi PSKTTI UI Muhammad Lutfi (kedua dari kiri). Dok: mysharing

Dalam Seminar Internasional bertajuk Peran Agama Sebagai Solusi Perdamaian di Timur Tengah, Mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Gatot Abdullah Mansyur, mengatakan agama adalah jiwa dari wilayah Timur Tengah. Mengutip pandangan akademisi asal Turki, Sinem Tezyapar, ia menuturkan bahwa tanpa agama, maka Timur Tengah bukanlah sebagaimana ia adanya. “Agama bukan hanya sekedar budaya tapi merupakan identitas Timur Tengah, jadi agama tidak terpisahkan dari Timur Tengah,” ujar Gatot di Gedung IASTH Universitas Indonesia, Senin (27/7).

Oleh karena itu, peranan agama dalam menyelesaikan konflik juga harus disertakan. “Agama menjadi tool untuk menyelesaikan konflik. Jadi peran agama dalam menyelesaikan konflik semestinya bisa,” tukas Gatot, sembari menambahkan di sisi lain politik juga punya peran signifikan untuk meredam konflik.

Pasalnya, di sisi lain Timur Tengah yang kaya akan sumber daya juga rawan terhadap intervensi asing berupa keinginan negara lain untuk ikut andil dalam isu domestik di Timur Tengah. “Untuk menyelesaikan konflik tidak hanya agama tapi juga harus ada kearifan politik. Jadi politik dan agama harus sama-sama diketengahkan. Pemimpin di Timur Tengah itu tidak harus hanya paham politik, tapi harusnya mengerti agama juga,” jelas Gatot.

Untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah, menurut Gatot, maka kesadaran toleransi harus diperkuat, mengambil persamaan yang ada, mengintensifkan dialog antaragama, menyadari tentang intervensi internal yang bisa mencabik keutuhan Timur Tengah, mempromosikan peran Organisasi Konferensi Islam di kancah politik global, serta menerima demokrasi sebagai fenomena global yang langsung diadaptasi dengan nilai Islam. Baca: Kemiskinan Masih Jadi Momok Negara Anggota OKI

Sementara, Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia Muhammad Luthfi menyampaikan bahwa belum ada tanda agama bisa jadi solusi mengatasi konflik di Timur Tengah, terutama untuk isu antara Israel dan Palestina. Pilihan pembentukan negara di daerah konflik tersebut pun belum ada titik temu. Kendati ada 137 negara yang telah mengakui Palestina sebagai sebuah negara, namun gemanya masih harus digaungkan kembali.

Pada kesempatan yang sama, Perintis Jewish-Moeslim Relations AIJAC Jeremy Jones, menuturkan ada tiga pendapat berbeda yang mengemuka terkait hubungan antara agama dengan permasalahan dunia. Pertama, bahwa konflik di dunia disebabkan oleh agama. Kedua, agama tidak ada kaitan dengan permasalahan dunia, agama dikaitkan dengan permasalahan dunia karena digunakan oleh politikus. Ketiga agama itu sempurna dan tidak menjadi penyebab permasalahan dunia. Perang yang terjadi di muka bumi ini adalah tentang perebutan sumber daya, bukan terkait dengan agama.

Dalam pandangannya, agama menawarkan harapan bagi umat manusia dan dunia untuk menjadi lebih baik. Hal itu pun menjadi elemen visi agama yang penting. Namun, ia pun tak menampik terkadang agama harus digabungkan dengan politik. “Orang biasanya menggunakan agama sebagai alasan untuk berpolitik, namun keduanya sangat bertolak belakang. Agama itu berbicara soal the power of love (kekuatan cinta), sementara poltik soal power (kekuasaan) semata, namun memang hal itu terkadang harus digabungkan,” ujar Jones. Baca: MUI: UU Kerukunan Umat Beragama Segera Diterbitkan

Di sisi lain, dialog antaragama pun harus terus ditingkatkan. Pada 2003 Kazakhstan telah menjadi tuan rumah konferensi dialog antarumat beragama. Momen itu dinilai sebagai upaya signifikan karena untuk pertama kalinya seluruh pemuka berbagai agama di dunia hadir di satu tempat dan saling berdialog. Dari forum tersebut masing-masing pihak pun menyadari banyak permasalahan yang bisa diselesaikan bersama. “Saya ingin mengemukakan peran agama adalah untuk mengingatkan bahwa anda merupakan bagian dari sebuah keluarga besar bukan sebagai individu,” papar Jones.