Program Pengentasan Kemiskinan ala Dompet Dhuafa

[sc name="adsensepostbottom"]

Isu kemiskinan menjadi momok setiap negara berkembang. Untuk menuju masyarakat sejahtera, lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa pun turut membantu pengentasan kemiskinan melalui berbagai program pemberdayaan.

Rakyat MiskinKetua Dewan Penasihat Dompet Dhuafa Parni Hadi, menuturkan ada lima rantai kemiskinan yang menjadi lingkaran setan yang perlu diberantas, yaitu miskin ekonomi, miskin kesehatan, miskin pendidikan, miskin budaya dan miskin iman dan takwa. “Di Dompet Dhuafa miskin ekonomi diberantas dengan cara pendekatan produktif, misalnya ada Pertanian Sehat Indonesia,” ujar Parni, beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan miskin ekonomi pun berdampak pada miskin kesehatan. Oleh karena itu, Dompet Dhuafa membangun rumah sehat dan poliklinik terpadu. Lembaga filantropi tersebut juga akan membangun rumah sakit bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.

Selain itu, tambah Parni, setelah miskin kesehatan terjadi miskin pendidikan karena biayanya kini semakin mahal. Dompet Dhuafa pun bergerak untuk mendukung pendidikan dengan mendirikan Sekolah Smart Ekselensia, kampus bisnis dan pengembangan sumber daya insani. Baca: Pendidikan Ekonomi Syariah di Indonesia Terganjal Kendala

“Insya Allah tahun depan akan dibangun Dompet Dhuafa University karena kita sudah punya tempat prakteknya. Sudah punya rumah sakit untuk praktek kesehatan, untuk pertanian kami punya lahan pertanian yang banyak, dan praktek keguruan karena kami ada sekolah dan punya banyak outlet untuk kita bina bersama masyarakat,” papar Parni.

Selanjutnya miskin pendidikan pun membuat jadi miskin budaya. Maka dari itu, Dompet Dhuafa membuat pusat budaya. Embrio pusat budayanya kini berada di Desa Jampang. Sementara, menurut Parni, miskin budaya dapat membuat miskin iman dan takwa, karena itu ada berbagai program peningkatan iman dan takwa. Baca: Tangan di Atas VS Tangan di Bawah

“Jadi lima kemiskinan itu yang harus diperangi. Tanpa pemberdayaan produktif agak susah berantas kemiskinan, maka kita berdayakan sehingga tercapai Indonesia berdaya, bekerja, berkarya, berjaya, bercahaya agar semua dalam naungan cahaya Illahi,” pungkas Parni.