Aset perbankan syariah per Mei 2015 Indonesia naik tipis dari periode sebelumnya, yaitu sekira 10,5 persen.

Per Mei 2015 aset BPRS naik 15 persen dibanding periode sama tahun lalu, yaitu dari Rp 5,9 triliun menjadi Rp 6,8 triliun. Sementara, aset BUS dan UUS tumbuh sekira 10 persen dari Rp 247,2 triliun pada Mei 2014 menjadi Rp 272,3 triliun. Secara total ada 12 BUS, 22 UUS dan 162 BPRS di seluruh Indonesia dengan jaringan kantor mencapai 2.738 unit dan 1.950 layanan syariah. Baca: Untuk Bersaing, Perbankan Syariah Perlu Tambahan Aset Rp 700 Triliun
Dari sisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah mencatat jumlah sebesar Rp 219,4 triliun, dengan rincian DPK BUS dan UUS sebesar Rp 215,3 triliun dan DPK BPRS sebanyak Rp 4,1 triliun. Per Mei 2015 DPK BUS dan UUS tercatat naik 13 persen dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 190,7 triliun. Sementara, DPK BPRS meningkat 13,9 persen dari Rp 3,6 triliun pada Mei 2014.
Di sisi pembiayaan perbankan syariah mencatat total penyaluran sebesar Rp 209,2 triliun. Hingga Mei 2015, pembiayaan BUS dan UUS mencapai Rp 203,8 triliun, meningkat dari periode sama tahun sebelumnya yang sebanyak Rp 189,6 triliun. Hal serupa juga dialami BPRS yang pembiayaannya meningkat dari Rp 4,7 triliun pada Mei 2014 menjadi Rp 5,4 triliun pada Mei 2015. Baca: Bank Syariah Masih Berkubang di Red Ocean
Pembiayaan berakad murabahah masih mendominasi portofolio perbankan syariah Indonesia. Dari total pembiayaan Rp 209,2 triliun, pembiayaan murabahah sekira 42 persen atau sebesar Rp 121,9 triliun. Diikuti oleh pembiayaan musyarakah dengan total Rp 54,6 triliun, mudharabah Rp 15 triliun, ijarah Rp 12,1 triliun, qardh Rp 5 triliun, istishna Rp 689,9 miliar, salam Rp 16 juta, dan pembiayaan multijasa sebesar Rp 281,1 miliar.

