Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan 20 persen wisatawan mancanegara (wisman) menikmati wisata halal di Indonesia. Angka tersebut dinilai lebih kecil dari jumlah turis wisata halal di Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Lebih lanjut diungkapkan Arief, dari target 10 juta wisatawan asing pada 2015, pemerintah menargetkan 20 persennya dikontribusikan dari segmen wisata halal. Angka tersebut, menurutnya, masih lebih kecil dari jumlah turis pariwisata halal Thailand yang mencapai enam juta orang, Malaysia lima juta orang dan Singapura empat juta orang.
”Thailand mayoritas non Muslim, tapi negara itu bisa memosisikan bisnis untuk wisatawan Muslim. Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, harus bergerak cepat,” tegas Arief.
Pada 2019, lanjut dia, target wisata halal bisa seperempat dari total 20 juta wisman. Apalagi, belanja turis wisata halal yang berkisar antara 1.500 dolar Amerika Serikat (AS)-1.700 dolar AS perkapita perhari lebih besar dari rata-rata belanja wisata wisman sebesar 1.200 dolar AS perkapita perhari.
Menurutnya, destinasi yang spesifik akan dicitrakan sebagai tujuan wisata halal adalah Nusa Tenggara Barat (NTB), Aceh dan Sumatera Barat. Pencitraan Lombok NTB, akan difokuskan pada wisata halal mengingat masyarakat di sana kental dengan tradisi Islam. ”Lombok harus punya brand sendiri sebagai destinasi utama. Dengan akar budayanya, kami menerapkan Lombok sebagai destinasi wisata halal yang dinilai lebih inklusif,” papar Arief.
[bctt tweet=”Belanja turis wisata halal sekitar USD 1500 – 1700 perorang/ hari. #Wisata”]

