Aksi tari Gendang Beleq, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). NTB adalah salah satu destinasi primadona wisata halal. Foto: The Lombok Guide

Wujudkan Target Wisata Halal Harus Samakan Persepsi

[sc name="adsensepostbottom"]

Pengembangan wisata halal tidak lepas dari bagaimana kesiapan destinasi di setiap daerah, sehingga diperlukan penyamaan persepsi.

Asisten Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf Watie Moerany mengatakan, wisata halal Indonesia makin diperhitungkan di tingkat dunia.Tahun 2015, Indonesia meraih tiga penghargaan dalam acara World Halal Travel Award 2015 di Uni Emirat Arab (UEA).

Yaitu, World’s Best Family Freindly Hotel diraih oleh Sofyan Hotel Betawi. Sedangkan World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destinantion diraih Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). “Sebenarnya kita bisa meraih banyak penghargaan, karena Indonesia sangat potensial untuk wisata halal tinggal bagaimana menerapkannya,” kata Watie pada sosialisasi bertajuk “ Strategi Pemasaran Wisata Halal Indonesia,” di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (11/5).

[bctt tweet=”Kemenpar: Wisata halal bukan sekadar meng-Islamisasi industri pariwisata” username=”my_sharing”]

Merujuk global halal market, lanjut dia, tahun 2013 hingga 2014 dimana tingkat pertumbuhan wisata halal  sudah mencapai 12 persen. Namun sangatlah disayangkan, Indonesia masih kalah dengan Malaysia sudah mencapai 6,2 juta kunjungan wisatawan Muslim, Thailand 4,2 juta,  dan Singapura 3,2 juta. “Indonesia baru 2 juta.Maka kegiatan  ini diadakan, tujuannya untuk mencapai target pasar wisata halal sejumlah 228,8 juta. Acara sosialisasi ini harus tepat sasaran dan dapat dilaksanakan dengan baik oleh semua pihak,” papar Watie.

Untuk mewujudkan target wisata halal, Kemenparekraf membentuk tim percepatan pengembangan pariwisata halal Indonesia.  Tim ini akan mensosialisasikan strategi pemasaran wisata halal. Karena menurut Watie, pengembangan   wisata halal tidak lepas dari bagaiman.a kesiapan destinasi di setiap daerah yang akan mempersiapkan produk-produk halalnya. Sehingga diperlukan kerja sama yang solid. “Kita jangan sampai terjebak bahwa wisata halal itu adalah untuk meng-Islamisasi. Itulah perlunya sosialiasi strategi pemasaran wisata halal ini,” tegasnya..

Wisata halal, lanjut dia,  sebenarnya adalah  wisata religi pada umunya. Tapi mungkin di sini ada syarat-syarat sesuai prinsip syariah yang harus disosialisasikan . Seperti  contohnya, fasilitas tempat ibadah yang baik dan benar, seperti ada lokasinya yang baik seperti apa,  hingga arah kibtal di hotel menjadi bagian dari wisata halal.  Begitu begitu juga sajian makanan halal dan branding wisata halal.

Sehingga Kemenparekraf  memerlukan menyamakan persepsi dengan para pelaku industri pariwisata, diharapkan bisa paham betul dengan strategi pencapaian pemasaran wisata halal Nusantara.” Jadi akan ada sosialisasi percepatan wisata halal, destinasi dan strategi wisata halal, branding wisata halal, dan kita juga akan mendapatkan ilmu succes story of halal destination,”  tegas Watie di hadapan para pelaku industri pariwisata.

[bctt tweet=”Kemenparekraf akan menyiapkan ilmu succes story of halal destination ” username=”my_sharing”]