(Ki-ka) : Presiden Persatuan Jaringan Bisnis Muslim Malaysia (MUBIN) Tn Ir Hj Sahak Yasin, Sekretaris BPPMI Rusli Effendi, Pimpinan MTKetua Masjid Jogokariyan Mohammad Jazir ASP pada Pelatihan Masjid Mandiri, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (24/9). Foto: MySharing.

Sinergi Istiqlal dan MTW Bangun Ekonomi Umat

[sc name="adsensepostbottom"]

Kalau masjid-masjid dikelola dengan baik, betapa dahsyat potensi ekonomi umat yang bisa dibangun.

Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) bersama Majelis Ta’alim Wirausaha (MTW) mencanangkan gerakan membangun ekonomi umat berbasis masjid.

Pencanangan dilaksanakan di Masjid Istiqlal Jakarta, pada Sabtu (24/9) di sela-sela pelatihan masjid mandiri melalui penandatangan kerja sama nota kesepahaman (MoU) antara Sekretaris BPPMI Rusli Effendi dan Ketua MTW Ustad Valentino Dinsi.

Rusli mengatakan, bahwa masjid sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW tidak hanya dimanfaatkan sebagai kegiatan ibadah saja. Tapi juga dijadikan tempat kajian pengembangan berbagai bidang sesuai esensi Islam sebagai agama paripurna. Sehingga di masjid pula dilahirkan gagasan dan pemikiran mengenai pengembangan ekonomi umat.

“Masjid Istiqlal sebagai masjid negara mempunyai wewenang membina masjid di seluruh Indonesia. Masjid Istiqlal memiliki program bagaimana membangun perekonomian masjid. Dan pelatihan masjid mandiri ini menjadi salah satu program dari BPPMI, yang kini menjalin kerja sama dengan MTW,” papar Rusli di hadapan peserta Pelatihan Masjid Mandiri.

Dalam kegiatan ini, tegas dia, BPPMUI juga sedang mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi keumatan, seperti Plaza Mini Islami yang berbasis masjid yang menjadi tempat bagi umat dapat mengakses berbagai kebutuhan. “Jadi, umat tidak lagi mencari kebutuhan yang diperlukan di mal-mal, melainkan bisa di masjid. Di masjid Istiqlal juga sudah ada minimarket,” ujarnya.

Terkait strategis masjid menjadi basis pengembangan peradaban, Rusli pun merujuk pada Perdana Menteri Indonesia era 5 September 1950-26 April 1951 yakni Mohammad Natsir. Rusli menyampaikan, Mohammad Natsir yang juga seorang ulama menyatakan, bahwa umat Islam jika hanya menggunakan masjid sebagai kegiatan ibadah semata akan dibiarkan. Sedangkan bila mulai membicarakan ekonomi akan diawasi, dan bila berbicara politik maka akan dijungkir-balikkan.

“Maka itu, kami mendukung program-program menjadikan masjid sebagai pusat ekonomi dan pengembangan sehingga potensi yang ada menjadi maksimal,” tegas Rusli.

Dalam kesempatan ini,  Pimpinan MTW Valentino Disni mengatakan, setelah MoU dengan BPPMUI akan dilanjutkan dengan program nyata. “Semula kami perkirakan pelatihan ini hanya dihadiri 300-an pengurus masjid, namun ternyata hingga 5.000 lebih. Ini menandakan ada kerinduan luar biasa untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban,” tegasnya.

[bctt tweet=”Ada kerinduan luar biasa untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban” username=”my_sharing”]

Valentino menyampaikan, bahwa jumlah masjid mencapai lebih dari 750 ribu unit di Indonesia, belum sepenuhnya menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Ini saatnya masjid ikut serta menggarap sektor yang menjanjikan tersebut.  “Kami sangat yakin dengan menggerakkan ekonomi masjid dapat membantu umat Muslim mengubah pola pikir ekonominya sebagai produsen. Jumlah kita banyak, tapi hanya menjadi konsumen,”  ujarnya.

Ketua Masjid Jogokariyan Mohammad Jazir ASP menambahkan, bahwa sesuai data di Kementerian Agama, jumlah masjid di Indonesia ada sekitar 750 ribu hingga 850 ribu.

“Kalau masjid-masjid itu dikelola dengan baik, betapa dahsyat potensi ekonomi umat yang bisa dibangun. Kehidupan umat Islam pun menjadi lebih sejahtera, karena semuanya berpondasi untuk kemajuan ekonomi umat,” pungkasnya.