Kebijakan Amerika Tak Membuat Bursa Efek Indonesia Kuatir

[sc name="adsensepostbottom"]

Pendapatan emiten selama setahun terakhir naik 6,1 persen.

Usai pemilihan presiden di Amerika Serikat menampilkan hasil yang mengejutkan dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden terpilih, baru-baru ini bank sentral Amerika Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Menilik dari berbagai peristiwa yang terjadi di Amerika tersebut tak lantas membuat Bursa Efek Indonesia kuatir.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengatakan, dampak terpilihnya Trump tidak akan seburuk apa yang orang kuatirkan. “Saya percaya Trump tidak seburuk yang orang takutkan karena tentunya ia ingin Amerika membaik. Saya tidak melihat ada dampak sama sekali selama Indonesia fundamentalnya baik,” katanya ditemui disela-sela Diskusi Ekonomi, Politik dan Keamanan Dalam Negeri dalam rangka Perencanaan Strategi Bisnis 2017, Kamis (15/12).

Ia mengemukakan, pertumbuhan Bursa Efek Indonesia pun tercatat sebagai yang tertinggi kedua di dunia. “Selama perusahaan tumbuh baik saya tidak kuatir, pendapatan emiten saja selama setahun ini naik 6,1 persen. Jadi semestinya membaik karena pertumbuhan perusahaan bisa mengambil alih itu,” harap Tito.

Sementara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Nurhaida mengatakan, industri pasar modal Indonesia sangat mencermati dan sensitif terhadap isu yang berkembang. Bahkan isu diluar pasar modal pun turut berpengaruh terhadap keputusan investasi dan bisnis perusahaan yang ada di pasar modal.

“Kalau dilihat semua kejadian di 2016 ada kebijakan The Fed, Brexit dan perlambatan di Tiongkok sangat memengaruhi pasar modal global dan Indonesia. Kami yakin fundamental perusahaan yang terdaftar di bursa sangat penting, tapi isu makro juga tidak kalah penting dan menjadi referensi utama bagi investor dan ini bisa dilihat dari indikator IHSG,” katanya.

[bctt tweet=”November 2016, IHSG sedikit menurun, 4% ” username=”my_sharing”]

Pada Juli sampai September 2016, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat signifikan, yaitu tumbuh 11 persen, dari 4800 menjadi 5400. Ini terjadi karena adanya program amnesti pajak yang diusung oleh pemerintah. Namun, di November 2016, IHSG agak sedikit menurun sebesar empat persen karena adanya pemilihan presiden Amerika, yang turut memengaruhi perekonomian global dan Indonesia.