Jembatan ini menjadi akses bagi warga untuk pergi mencari nafkah, menimba ilmu dan aktivitas lainnya.
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) terus mengoptimalkan pendekatan serta pemberdayaan kaum marjinal, Salah satunya adalah dengan membangun jembatan di daerah pedalaman agar akses mereka bias terbuka lebih luas. “Sudah menjadi tugas BAZNAS memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan,” ujar Pimpinan Layanan Aktif BAZNAS (LAB) Ahmad Fikri, di Jakarta, Jumat (27/10/2017).
Seperti diketahui LAB baru saja membangun jembatan yang menghubungkan Desa Simpang Garut dengan Desa Cempakasari, Tasikmalaya, Jawa Barat dan Jembatan Kasaba Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Banten.
Pembangunan itu berawal saat LAB mendapatkan informasi melalui media sosial terkait laporan kerusakan jembatan yang sudah usang oleh Kepala Desa Simpang Garut. “Tim LAB langsung merespon dan pada 19 Oktober mendatangi lokasi dan mengecek kondisi jembatan yang ternyata mengenaskan dan membahayakan warga. Pada malam harinya kami bermusyawarah dengan perangkat dari desa, kelurahan dan kecamatan,” ucapnya.
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Pada 20 Oktober, tutur Fikri, tim LAB mengoordinasi warga untuk berbelanja di kawasan Cipatujah dengan menempuh perjalanan selama 10 jam. “Dengan bergotong royong bersama warga, dalam sepekan jembatan pun kelar hingga bisa dimanfaatkan oleh 4.629 jiwa dalam 1.279 kepala keluarga,” ujarnya.
Selain itu, lembaga ini juga telah membangun Jembatan Kampung Sawah Bangkit (Kasaba) yang diakses 2.600 penduduk Kampung Sawah dan Kampung Lebak Picung, Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Banten. Jembatan yang dibangun di atas Sungai Ciberang ini menjadi akses satu-satunya bagi warga untuk pergi mencari nafkah, menimba ilmu dan aktivitas lainnya.
Tak hanya di pelosok, lembaga ini juga turut membantu meringankan musibah yang terjadi di seputaran Jakarta seperti serta mengirimkan ambulan untuk membantu korban ledakan pabrik petasan di Kompleks Pergudangan 99, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten.
Selain itu, aktifitas terakhir yang dikoordinir oleh Farid Septian selaku Koordinator Dakwah dan Advokasi adalah membina kelompok marjinal yang terdapat di sejumlah terminal. “Setiap informasi kita respon dengan kaji cepat terlebih dahulu. Jika kaji cepat atau assesment awal menunjukkan stakeholder penanggulangan bencana setempat mampu menangani, BTB (Baznas Tanggap Bencana) standby memonitor perkembangan saja. Tapi bila mendesak, BTB ikut ambil bagian,” katanya.
Menurut Fikri, BTB akan merespon ke lapangan jika kebutuhan hidup (livelihood) masyarakat terganggu. Ditambah lagi bila tim penanggulangan bencana setempat belum optimal melaksanakan tugas yang disebabkan sejumlah hal seperti kekurangan sumber daya manusia (SDM), biaya, peralatan, luas area atau warga terdampak sangat banyak.
Farid menjelaskan, aktivitas yang menyasar para pedagang, petugas kebersihan, kuli panggul, pengojek motor pangkalan dan online, dan sebagainya, dilakukan dengan menggelar pengajian rutin.
“Kami ingin mengubah citra terminal yang kerap diidentikkan dengan kriminalitas menjadi lebih humanis dan agamis. Apalagi, terminal menjadi pusat perkumpulan mustahik dari asnaf fakir, miskin dan musafir atau ibnu sabil,” pungkas Farid.

