berhemat saat krisis
Ilustrasi: ThinkStock

Berhemat Saat Krisis, Kurangi Belanja di Supermarket

[sc name="adsensepostbottom"]

Berhemat saat krisis bisa dimulai dengan menganalisa daftar belanjaan tiap bulan. Simpel, kurangi belanja yang tidak perlu.

berhemat saat krisis
Ilustrasi: ThinkStock

Siapa tidak senang belanja? Selain mendapat perasaan tenang karena kebutuhan terpenuhi, juga senang karena mendapat barang baru. Namun, sudahkah Anda bijak dalam berbelanja. Banyak pearameternya, namun yang umum adalah hanya berbelanja kebutuhan yang memang diperlukan.

Murniati Mukhlisin dan Luqyan Tamani berbagi pengetahuan dan tips mengenai mengapa kita harus mengurangi belanja di supermarket dalam bagian “Mengelola Impian Keluarga” di bukunya Sakinah Finance (Tinta Media-Solo: 2014).

Dua penulis ahli ekonomi Islam ini menganjurkan hal sederhana untuk berhemat di saat harga-harga pada naik, yaitu untuk mencatat daftar belanjaan tiap bulannya dan menganalisa, belanjaan mana yang menguras kantong paling banyak. Dari sana, kita bisa menimbang, perlukah belanjaan A atau B di saat krisis?

Dua penulis mengira-ngira, daftar belanjaan yang umum dilakukan keluarga Indonesia:

  1. Belanja dapur (ikan, sayur, dagng), bisa sampai 30-50%
  2. Transportasi (bensin atau ongkos bus, kereta) bisa sampai 20-40%
  3. Sewa rumah atau cicilan KPR bisa sampai 30-40%
  4. Makan di luar bersama keluarga atau sendiri di tempat kerja, bisa sampai 10-20%
  5. Hobi dan hiburan, termasuk membeli mainan anak, hobi keluarga seperti tanaman hias, TV kabel, buku, majalah, DVD, internet, dan sebagainya, bisa sampai 5-30%
  6. Perhiasan dan aksesori seperti baju, make up, gagdet, jam, dan sebagainya bisa sampai 5-15%

Dari daftar di atas, penulis menganjurkan, di saat krisis, jangan ragu untuk memangkas dua daftar terakhir yaitu hobi dan hiburan dan perhiasan dan aksesori. Setidaknya pemangkasan itu akan mengurangi 5% belanja keluarga.

Nah, mulailah menimbang alat transportasi lain, misalnya kendaraan umum atau sepeda motor. Namun tak jarang juga naik kendaraan umum bisa lebih mahal. Intinya pintar-pintarlah mengaturnya, seperti naik mobil pribadi hanya sampai stasiun atau terminal bis. Atau naik sepeda motor, jika Anda tidak merasa risih kehujanan, kepanasan, dan kecapean, karena pada umumnya, naik sepeda motor sampai saat ini masih yang paling hemat.

Sebagai informasi, kenaikan harga BBM malah mengandung potensi bahaya lebih besar. Menurut Bank Dunia, kenaikan harga BBM berpotensi menambah jumlah orang miskin hingga 6 juta jiwa.

Bawa Bekal dari Rumah
Untuk Anda yang bekerja, dapat memanfaatkan makanan rumah untuk berhemat saat krisis. Ya, bawa bekal. Coba hitung berapa uang makan siang habis jika tidak bawa bekal. Rp. 10.000? sulit rasanya bagi orang kantorann saat ini, karena harga makan siang se porsi plus minumnya sudah di rerata di atas Rp15.000 (non warteg). Padahal, dengan uang segitu Anda bisa memasak makanan untuk setidaknya tiga porsi makanan empat sehat.

Dua penulis ini menyarankan begitu, dengan membawa bekal, kita bisa makan d pantry atau lounge kantor, “Anda bisa lebih efisien waktunya (waktu makan cuma habis 15 menit dan shalat)”, kata penulis buku ini di halaman 97.

Menghemat Biaya Perjalanan Kerja/Dinas
Bahkan taksi bertarif lama pun, dinilai masih mahal, tentu saja jika dibandingkan dengan naik kendaraan umum. Tips berhemat saat krisis terkait transportasi ini sudah dijelaskan juga di atas.

Hindari Belanja Kebutuhan Dapur di Supermarket atau Pusat Perbelanjaan
Selain relatif mahal, juga berpotensi mengundang keinginan belanja yang tidak trkontrol. “Anda yang niatnya cuma mau beli kecap, kentang, ikan asin, dan roti tawar, malah berujung dengan belanjaan seabrek karena didesak oleh pikiran akan ‘mumpung’”, kata penulis buku ini di halaman 98.

Jauh lebih murah di pasar tradisional, hanya memang lebih capek dan kurang nyaman, plus mungkin kurang gengsi. Namun belanja di pasar tradisional memberdayakan petani dan pedagang kecil kita.

Namun penulis menambahkan, “Kalaupun memang Anda berkeyakinan supermarket lebih murah, rencanakanlah pembelanjaan dengan baik, cermat, dan disiplin. Dengan begitu, kita tidak akan menghabiskan uang lebih banyak untuk halhal yang tidak urgent,” (halaman 98).

Bergabung dengan Komunitas untuk Berbagi, atau Barter
Penulis memeparkan cukup baik tips ini, meskipun hanya sedikit. Bisa jadi ini tips permulaan bagi Anda yang ingin berhemat dengan cara berbagi. Komunitas berbagi bisa dicapai dengan dunia online. Penulis menyebut Komunitas Tangan di Atas (TDA) sebagai komunitas berbagi kesukaannya di Indonesia. Sementara di Inggris, tempat sekolah dua penulis ini, adalah komunitas Free Recycle. Konsep komunitas berbagi memang unik, Anda dapat menggunakan atau memakai benda milik orang lain, selama tersedia. Maksudnya sedang tidak dipakai. Di dunia global, sedang berkembang konsep Sharing Economy, salah satu praktiknya adalah konsumsi kolaboratif (collaborative consumption). Ya maksudnya begitu, daripada Anda membeli pemotong rumput yang tidak setiap hari Anda pakai, Anda bisa meminjam punya tetangga. Atau Pak RT Anda memobilisasi dana untuk membeli mesin pemotong rumput bersama.

Dengan tidak membeli barang yang belum tentu benar-benar kita butuhkan saat ini, Anda dapat berhemat saat krisis. Bukan hanya baik untuk keuangan Anda, juga membantu mengendalikan diri, seperti menunaikan puasa di bulan Ramadhan. Toh, belum tentu bulan puasa depan, kita masih bisa menemuinya.