Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Dr. Arie Budhiman, M.Si.

Arie : Jakarta Sudah Garap wisata Syariah Sejak Tahun 2004

[sc name="adsensepostbottom"]

 Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman, M.Si, mengatakan Jakarta sudah mengarap wisata syariah sejak tahun 2004 dan akan terus menggarap segmen ini.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Dr. Arie Budhiman, M.Si.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Dr. Arie Budhiman, M.Si.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Dr. Arie Budhiman, M.Si, mengatakan, pihaknya memposisikan pariwisata sebagai paradigma dan kegiatan unggulan. Pelayanan lebih baik berdasarkan permintaan pasar atas sertifikat halal yang dapat memberikan jaminan keamanan, kesehatan dan kenyaman konsumen.

Peningkatan pelayanan tersebut, tegas Arie, terkait dengan berkembangnya halal industri, dimana umat Islam mengisi 23 persen populasi manusia di bumi. Mereka memiliki etika hidup yang diatur dalam syariat Islam. Ini mencakup makanan dan minuman, keuangan syariah, asuransi syariah, obat, kosmetik, pakaian, dan gaya hidup. Dengan pertumbuhan yang sangat pesat, umat Islam menjadi kekuatan baru dalam wisata global.

“Bahkan diperkirakan pada tahun 2020 pasar wisata muslim global melebihi wisata di lima negara yaitu Jerman, Amerika Serikat, Cina, Inggris dan India. Indonesia berpeluang memimpin wisata syariah dunia secara global,” kata Arie pada seminar dan diskusi nasional RUU Jaminan Produk Halal di Universitas Said Jakarta, Selasa (17/9).

Menurut Arie, DKI Jakarta merupakah salah satu propinsi yang ditetapkan sebagai destinasi wisata syariah oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Pihaknya diberikan keleluasaan oleh pemerintah pusat untuk menjalankan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta telah menjalankan visi kebijakan industri halal yang tercantum dalam peraturan daerah No 10 tahun 2004.

Adapun isi peraturan tersebut yakni industri pariwisata yang menyediakan makanan dan minuman yang diperbolehkan menurut agama Islam harus disertifikasi halal oleh lembaga yang berkompeten. Hal ini juga dipertegas oleh Peraturan Gubernur No. 158 Tahun 2013 tentang Tata Cara Sertifikasi Halal Restoran dan Non Restoran. “Memang tidak ada maksaan pada pengusaha, namun sertifikasi halal ini kebutuhan pasar yang dinikmati konsumen dan kami sudah menggarap wisata syariah ini sejak tahun 2004,” ujar Arie.

Namun demikian, Arie menegaskan, terkadang persepsi pelaku bisnis terhadap industri halal sebagai gerakan Islamisasi. Sosialisasi dan pemahaman terhadap industri halal juga masih terbatas. Dampak lainnya, perilaku stakeholder pada pengelola bisnis pariwisata dan parahnya belum ada pencatatan khusus statistik industri halal nasional. Hal ini sangatlah penting, mengingat perkembangan industri halal di Indonesia terus meningkat.

Jumlah wisatawan muslim ke Indonesia pada tahun 2012, menurut Arie, sebesar 1,4 juta atau 18,24 persen. Wisatawan mancanegara ini bukan hanya datang dari Timur Tengah, tapi negara Malaysia, Singapura, Jepang, Cina, dan lainnya. Sedangkan wisatawan nusantara (wisnus) pada tahun 2011 sebesar 239 juta perjalanan dengan total perputaran ekonomi Rp. 158 triliun. Dengan populasi 88 persen muslim, sehingga wisnus muslim dapat diperkirakan untuk tahun 2011 adalah sebesar 210 juta dengan pengeluaran belanja wisata sebesar Rp. 139 triliur atau USD 16.6 miliar.

Kunjungan Wisatawan Ke Jakarta

Melinik perkembangan industri halal di Jakarta dari tahun ke tahun terus meningkat. Dari data yang terangkum pada seminar dan diskusi RUU JPH di Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Sahid, Jakarta, Selasa (17/9), ada 32 group perusahaan dan 315 gerai berserfitikat halal dan 77 gerai masih dalam proses serta 2 hotel syariah yaitu Hotel Sofyan dan Hotel Aliia.

Tahun 2012-2013, kunjungan wisatawan mancanegara ke Jakarta mengalami peningkatan sebesar 7,88 persen atau dari 2,1 juta menjadi 2,2 juta. Rata-rata pertumbuhan tahun 2009-2013 sebesar 12,55 persen. Data Januari-April 2014 mencapai 769.245. Kunjungan wisatawan nusantara tahun 2012-2013 meningkat 10, 64 persen atau 28,8 juta menjadi 31,6 juta. Rata-rata pertumbuhan 2009-2013 sebesar 18, 45 persen. Data Januari-April 2014 mencapai 10.548.500.

Sushi Bar, salah satu restoran halal di Jakarta
Sushi Bar, salah satu restoran halal di Jakarta

Adapun devisa wisatawan mancanegara yang mengalir ke Jakarta, tahun 2012-2013 meningkat sebesar 13,24 persen atau dari Rp 1,6 miliar menjadi Rp 1,8 miliar . Rata-rata pertumbuhan 2009-2013 sebesar 31,85 persen. Akumulasi belanja wisatawan nusantara di Jakarta, tahun 2012-2013 sebesar 10,87 persen atau Rp. 36 triliur menjadi Rp 43 triliur. Sedangkan rata-rata pertumbuhan 2009-2013 sebesar 13,75 persen. “Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sampai bulan Mei 2014 sebesar Rp. 2,5 triliun,” ujar Arie.

Arie menuturkan, seperti halnya di dunia international, pada tahun 2013, Thomas Reuters merilis data sepanjang 2012 tentang belanja muslim global yang melancong ke berbagai negara mencapai USD 137 miliar. Jumlah ini setara 12,5 persen dari keseluruhan nilai belanja pariwisata dunia. Thomas Reuters memperkirakan, tahun 2018 keperluan belanja dan wisata muslim dunia menembus USD 181 miliar. Sebagai negara muslim friendly, Indonesia pasti akan rugi jika tidak fokus menggarap wisata syariah. Bukan tanpa alasan, Indonesia menaruh perhatian komunitas agama terbesar dengan jumlah pemeluk lebih dari 1,62 miliar jiwa.

Indonesia khususnya Jakarta, tegas Arie, tidak boleh kalah dengan Hongkong yang lebih banyak menyediakan masjid, mushola dan makanan halal untuk meningkatkan kedatangan wisatawan muslim. Begitu pula Thailand yang sudah memiliki lebih dari 100 hotel dan restoran sertifikat halal. Negara ini juga telah mempunyai Halal Science Center yang mendukung halal industri Thailand menjadi salah satu produsen dan ekportir halal terbesar di Asia.

Singapura dan Malaysia pun patut diacungkan jempol. Sertifikasi di Singapura sangat sistematis dan berkembang tidak kurang dari 2.691 hotel dan restoran sertifikasi halal. Negara ini mempunyai Undang-Undang yang memberikan sangsi berat bagi restoran yang telah bersertifikasi halal, tapi melakukan pelanggaran. Demikian juga Malaysia, sudah mempunyai 366 hotel dan 2000 lebih restoran bersertifikat halal dari Majelis Ulama setempat.

Arie menegaskan, pihaknya akan fokus menggarap wisata syariah dengan meningkatkan pelayanan. Karena industri halal merupakan pasar rakasasa bagi perkembangan turisme Jakarta. Untuk mewujudkannya, diperlukan sinergi dan aksi dari seluruh pemangku kepentingan. Meningkatkan sosialisasi atau kampanye halal melalui berbagai media juga terus dilakukan.”Kami juga berkomitmen terus mengadakan pelatihan sertifikasi halal gratis bagi pengusaha,” pungkas Arie.