ekonomi syariah

Asuransi Syariah Brunei Tumbuh Pesat

Asuransi syariah Brunei Darussalam mengalami pertumbuhan signifikan di saat bisnis asuransi konvensional tengah menurun.

Laporan bulanan otoritas moneter Brunei Darussalam, Autoriti Monetari Brunei Darussalam (AMBD) menyebutkan sampai 30 September 2013 aset asuransi syariah di negara itu naik 21 persen menjadi 425 juta dolar Brunei (336 juta dolar AS). Sementara, aset asuransi konvensional turun 1,3 persen.

Sektor asuransi syariah Brunei yang berkembang pesar mengindikasikan industri keuangan syariah terus mengalami kemajuan. Negara yang dipimpin Sultan Hasanah Bolkiah itu membidik produk keuangan syariah dapat memiliki porsi 60 persen dari total aset perbankan dalam waktu lima tahun ke depan. Sekarang porsi produk keuangan syariah baru di kisaran 40 persen.

Berdasar laporan AMBD yang dilansir dari thestar.my, Senin (20/1), pasar asuransi syariah Brunei yang terdiri dari empat operator mencatat pangsa pasar 33 persen dari total asuransi nasional. Persentase ini naik dibanding tahun lalu yang sebesar 29 persen. Kendati aset asuransi syariah tumbuh pesat di Brunei dalam 10 tahun terakhir, para pelaku asuransi syariah menyebutkan masih rendahnya kesadaran berasuransi dari warga Brunei.

Brunei yang menjadi negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di Asia Tenggara setelah Singapura punya target untuk dapat berkompetisi di industri keuangan syariah regional, bersanding dengan Malaysia dan Indonesia. Bisa dikatakan hal itu merupakan bagian strategi untuk melepaskan ketergantungan Brunei terhadap sumber daya minyak yang diperkirakan akan habis dalam dua dekade mendatang. Selain, alasan untuk mendiversifikasi perekonomian Brunei.

Brunei, Malaysia dan Indonesia punya potensi besar bagi perbankan syariah ritel di kawasan Asia Tenggara. Kombinasi populasi muslim ketiga negara tersebut mencapai hampir 280 juta jiwa. Aset asuransi syariah Indonesia tumbuh 43 persen di tahun 2012 menjadi Rp 13,1 triliun, dari Rp 9,5 triliun di tahun 2011. Pangsa pasarnya tercatat 2,3 persen dari total asuransi nasional.