Bakso Daging Celeng Kembali Resahkan Jakarta

Bakso Daging Celeng Kembali Resahkan Jakarta

[sc name="adsensepostbottom"]

Setelah tertangkapnya pedagang bakso daging celeng di Tambora Jakarta Barat pada 2012. Masyarakat Jakarta kini kembali resah atas kasus ini yang disinyalir kembali hadir.  Pemerintah DKI Jakarta terus melakukan penyelidikan intensif keberadaan pedagang bakso di Jakarta.

Bakso Daging Celeng Kembali Resahkan JakartaPada tahun 2012, kasus daging celeng atau babi hutan menyeruak di  Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, oleh seorang pedagang bakso bernama Sutiman Warso.  Kasus ini pun telah ditangani oleh Kepolisian Sektor Tambora. Begitu juga dengan Eka Prasetya alias EP, pedagang daging sapi yang melakukan pengoplosan dengan daging babi di pasar Cipete Kebayoran Baru Jakarta Selatan, pada 2012. Eka telah ditangkap dan diberi sanksi pidana 2 tahun 8 bulan oleh Polres Metro Jakarta Selatan.

Kini, kasus bakso celeng kembali menyeruak di Jakarta dan meresahkan masyarakat. Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Walikota Jakarta Selatan Nurhasan mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat terkait beredarnya bakso celeng di wilayah Jakarta Selatan. “Masyarakat melapor ada warung bakso yang mencurigakan, harga seporsinya murah dan ramai pengunjung,” kata Nurhasan kepada MySharing, saat ditemui di Hotel Media di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta, Kamis (30/10).

Atas laporan tersebut, kata Nurhasan, pihaknya langsung turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan terhadap warung-warung bakso yang dicurigai. Ia mengungkapkan, pada Selasa (28/10) lalu, tim Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Walikota Jakarta Selatan melakukan sidak mengambil sampel bakso di warung bakso di 10 kecamatan yaitu Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Pesanggrahan, Cilandak, Pasar Minggu, Mampang, Tebet, Pancoran, Jagakarsa dan Setiabudi.

“Dari masing-masing wilayah tersebut, kami ambil  sampel baksonya  dari 5 warung bakso. Jadi ada sekitar 50 warung bakso yang diambil baksonya  untuk diperiksa dan sudah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) di Bambu Apus, Jakarta Timur,” kata Nurhasan.

Lebih lanjut ia menjelaskan sebelum memutuskan mengambil sampel tersebut, timnya terlebih dahulu melakukan investigas atas laporan masyarakat terkait kecurigaanya terhadap warung tersebut. Setelah mendatangi dan membeli bakso serta mencicipinya. Pendekatan terhadap pemilik bakso pun dilakukan dengan meminta izin kalau baksonya diambil untuk sampel uji laboratorium.

Memang beragam tanggapan muncul, ada pemilik bakso yang marah dan berkata mengapa baksonya dijadikan sampel. Namun, Nurhasan dan timnya memiliki trik khusus menghadapi mereka, sehingga tidak ada perlawanan. “Saya katakan kepada mereka, jauh lebih bagus kalau bakso yang dijual di uji laboratorium. Kalau hasilnya negatif, akan diberikan penghargaan dengan menempel  hasil laboratorium dan stiker di warung tersebut yang menyatakan bahwa bahan-bahan baksonya bagus alias halal,” ujarnya.

Namun demikian, tegasnya, jika hasilnya positif akan dikenakan sanksi sesuai dengan Perda No. 8 Tahun 1998 Tentang Perlindungan Konsumen, Pemotongan Ternak, Perdagangan Ternak dan Daging di DKI Jakarta.Biasanya, pelaku akan dipanggil untuk ditanyakan perihal usaha bakso celengnya dan akan diberikan pembinaan. Jika pengusaha bakso tersebut menyatakan bahwa dia tidak menggiling daging sendiri, melainkan memakai jasa pengilingan daging di pasar tradisional. Maka Suku Dinas Peternakan  dan Perikanan Walikota Jakarta Selatan akan terus melakukanan penelusuran hingga selesai, dan menjerat pelakunya.

Namun jika sudah dibina, tetap tidak jera masih melakukannya. Maka akan dikenakan sanksi pidana seperti yang dialami Eka, seorang pengoplos daging sapi dan babi di Pasar Cipete Kebayoran Baru yang dipenjarakan 2 tahun 8 bulan. “Dia tidak ada jeranya, setelah 1-3 kali dibina, tapi tetap melakukan kecurangan yang merugikan konsumen. Kami terpaksa limpahkan ke Polres Metro Jaksel,” katanya.

Nurhasan menegaskan sampel bakso yang dicurigai sebagai bakso celeng itu hingga saat ini masih diperiksa di laboratorium Kemesvet di Bambu Abus Jakarta Timur. “Insya Allah hasil laboratoriumnya minggu depan sudah diumumkan,” paparnya.

Mencegah Daging Celeng  Beredar di Jakarta

Kepala Seksi Produksi Bidang Peternakan Dinas Keluatan dan Perikanan DKI Jakarta Erwin Fahmy mengatakan, masyarakat perlu mengenali ciri-ciri bakso yang terbuat dari daging celeng. Apalagi sekarang ini isu bakso daging celeng kembali hadir atas banyaknya laporan masyarakat.

Erwin mengungkapkan, tidak dipungkiri ada juga pedagang bakso yang licik ketika meracik daging celeng menjadi bakso dengan menambahkan bawang putih untuk menghilangkan ciri khas bau daging babi yang anyir.  Erwin menghimbau agar masyarakat harus tetap waspada terhadap beredarnya bakso daging seleng. Namun demikian ia mengingatkan, masyarakat tetapi jangan takut makan bakso jika sudah mengetahui ciri-ciri bakso yang halal.

Lebih lanjut.Erwin menuturkan, pihaknya sudah sering mendapat aduan dari masyarakat terkait pedagang curang tersebut, yakni mencampur daging celeng dengan daging sapi dalam membuat bakso. Informasi masyarakat pun ditindaklanjuti oleh tim Bidang Peternakan Dinas Keluatan dan Pertanian DKI Jakarta. Namun demikian, tegas dia, dari sekian informasi yang sudah diinvestigasi hanya satu yang terbukti, yakni pedagang bakso yang di Tambora Jakarta Barat. “Dengan merebaknya lagi kasus ini, kami mengumpulkan fakta-fakta  dan tim melakukan sidak  mengambil sampel bakso dari beberapa pedagang bakso. Pemeriksaan ke  pasar tradisional juga terus dilakukan,” katanya.

Untuk mengantisipasi peredaran daging celeng di Jakarta, Erwin dan Nurhasan terus melakukan pemantauan ke lapangan, khususnya pada pengiriman daging celeng dari Bengkulu ke Taman Marga Satwa Ragunan, Jakarta Selatan. Menurut Nurhasan, proses pengiriman daging celeng dari Bengkulu ke Taman Marga Satwa Ragunan ini seminggu sekali sebanyak 3 ton. Sekalipun daging celengnya dalam kondisi dikemas plastik dan sudah disegel. Namun pengawasan harus tetap dilakukan.” Ini PR kami, takutnya daging celeng itu muntah dijalan aliasan dijual sebagian. Karena terkadang ada yang nakal, sehingga diperlukan kerjasama yang sinergi untuk mengawasinya,” katanya.

Mengingat sekali kirim daging celeng dalam seminggu 3 ton, maka proses pemeriksaan timbangan pun terus dilakukan. Erwin menuturkan, mulai dari Merak, penimbangan daging celang sudah dilakukan hingga daging itu sampai ke Taman Marga Satwa Ragunan.” Penimbangan ini untuk mengecek sesuai tidak dengan data timbangan dokumen. Takutnya daging celeng itu kencing dijalan alias dijual oknum” tegas Erwin.

Kembali Nurhasan menjelaskan, bahwa upaya  pencegahan beredarnya daging celeng, termasuk bakso celeng di Jakarta, merupakan langkah Pemda DKI dalam mendukung wisata syariah di Jakarta. Apalagi sudah terkandung dalam Peraturan Gubernur (Pergub) no 158 tahun 2014 tentang Tata Cara Sertifikasi Halal Restoran dan Non Restoran di Jakarta. Peraturan itu juga berkaitan dengan menjadikan Jakarta Kota Syariah. “Berkaitan dengan ini, produk-produk peternakan, kelautan dan perikanan itu harus halal. Di Jakarta sudah banyak pengilingan daging bersertifikasi halal MUI. Gerakan ini termasuk budaya hidup halal,” kata Nurhasan.

Erwin juga menuturkan,   bahwa halal telah menjadi tren global dan untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, produk halal di Indonesia harus ditingkatkan termasuk dalam hal proses pemotongan ternak, pengilingan daging hingga proses pembuatan dan penyajian makanannya harus halal. “Dalam rangka MAE 2015, persaingan semakin ketat. Oleh karena itu,  serba halal harus ditingkatkan,” tandasnya.

Berikut ini cara membedakan daging celeng dengan daging sapi :daging sapi vs daging celeng

  • Segi Warna

Daging celeng sekilas warnanya hampir mirip dengan warna daging sapi. NAmun bila diperhatikan secara seksama warna daging celeng pucat mendekati warna daging ayam.

  • Segi Serat Daging

Serat daging sapi tampak padat dan garis-garis seratnya terlintas jelas. Serat daging celeng tidak sepadat serat daging sapi, lebih halus dan mudah dipisahkan antar seratnya.

  • Segi Penampakan Lemak

Daging celeng memiliki tekstur lemak yang lebih elastik sementara lemak sapi kaku dan berbentuk. Selain itu, lemak pada celeng sangat basah dan sulit dilepas dari dagingnya, sementara lemak daging sapi agak kering dan tampak berserat.

  • Segi Tekstur

Daging sapi memiliki tekstur yang lebih kaku dan padat disbanding dengan daging celeng yang lembek dan mudah diregangkan.

  • Segi aroma

Daging celeng memiliki aroma anyir, sementara daging sapi aroma yang khas. Segi bau inilah yang sebenarnya senjata paling ampuh untuk membedakan antara kedua daging ini. Karena walaupun warna telah dikamuflase dan dicampur antar keduanya, namun aroma kedua daging ini dapat dibedakan.