Bank Muamalat
Bank Muamalat

Bank Muamalat Mulai Konsolidasi

[sc name="adsensepostbottom"]

Agresifitas Bank Muamalat dalam pembukaan jaringan dan pembenahan infrastruktur yang dilakukan beberapa tahun belakangan kini mulai menurun. Di tahun depan pionir bank syariah di Indonesia itu pun akan mulai melakukan konsolidasi internal dan mengoptimalisasi jaringan eksisting.

Bank Muamalat
Bank Muamalat

Sekretaris Perusahaan Bank Muamalat, Meitra N Sari, mengatakan saat ini Bank Muamalat telah memiliki sekitar 500 kantor cabang di seluruh Indonesia, oleh karena itu di tahun depan pihaknya pun berencana untuk mengoptimalisasi bisnis di jaringan kantor tersebut. “Dalam rangka konsolidasi sebagai salah satu strategi lima tahun ke depan dan juga menyambut pasar yang semakin terbuka nantinya, maka kami akan melihat lagi pos-pos yang kami punyai agar posisi kami (di industri perbankan syariah) bisa tetap terjaga,” ujar Meitra, ditemui usai seremoni penyembelihan kurban Baitulmaal Muamalat, Selasa (7/10).

Meitra mengatakan Bank Muamalat telah melakukan ekspansi infrastruktur jaringan, ATM, mobile branch besar-besaran untuk mendukung pertumbuhan. “Jadi di 2014 dan 2015 lebih ke konsolidasi dan optimalisasi cabang agar BOPO (rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional) dan komposisi dana murah lebih bagus, net interest margin juga tidak tertekan,” papar Meitra.

Selain itu, Bank Muamalat akan lebih selektif dalam memilih sektor pembiayaan. Meitra mengungkapkan salah satu contoh pihaknya akan lebih memprioritaskan sektor-sektor seperti rumah sakit, sekolah dan energi. “Jadi kita memilih sektor-sektor dimana meski saat krisis pun mereka akan tetap ada,” kata Meitra.

Bank Muamalat juga akan meninjau nasabah secara berkala agar risiko tetap terjaga. Meitra memaparkan kini pihaknya membangun suatu struktur baru, dimana divisi manajemen risiko mulai lebih tersegmentasi. Langkah tersebut dilakukan agar pembiayaan bisa tetap ekspansif sembari tetap menjaga asas kehati-hatian. Baca Juga: Semester II, Bank Muamalat Fokus di Pembiayaan Ritel

Tambah Modal di 2016

Meitra mengakui semakin bank berekspansi, bertumbuh dan menguntungkan, maka akan semakin membutuhkan tambahan modal. Bank Muamalat pun berencana akan kembali menambah modal di tahun mendatang. Namun metode penambahan modalnya sendiri saat ini masih dikaji, apakah akan kembali melakukan second public offering, menerbitkan sukuk, atau dengan metode lainnya. “Jadi langkahnya adalah bagaimana kami bisa tetap berekspansi sembari tetap menjaga rasio kecukupan modal,” kata Meitra.

Namun, jumlah tambahan modalnya belum bisa diperkirakan saat ini. “Itu nanti tergantung posisi di akhir Desember untuk ‘cadangan’ ekspansinya dan akan disesuaikan dengan kebutuhan. Insya Allah nanti kita masukkan ke rencana bisnis bank yang akan diajukan ke OJK dan Bank Indonesia,” jelas Meitra.

Ia menambahkan isu penambahan modal pun kemungkinan akan dilakukan pada 2016. Sebelumnya pada Desember 2013 Bank Muamalat telah melakukan second public offering. Bank tersebut pun tidak diperbolehkan lagi melakukan aksi korporat selama satu tahun. Itu berarti Bank Muamalat baru akan bergerak melakukan persiapan penambahan modal di awal 2015. “Namun semua itu perlu persiapan yang agak lama karena harus melakukan kajian dan menunjuk underwriter. Waktunya bisa habis 6-8 bulan, jadi penambahan modal lagi bisa jadi di tahun 2016 atau 2017,” cetus Meitra.

Pada semester I 2014 Bank Muamalat membukukan aset sebesar Rp 54,4 triliun, atau tumbuh 22 persen dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 47,9 triliun. Sementara dana pihak ketiga tumbuh 28,2 persen menjadi Rp 46 triliun dan pembiayaan tumbuh 16,38 persen menjadi Rp 44,3 triliun. Laba sebelum pajak pada semester I 2014 tercatat sebesar Rp 285,3 miliar, menurun 23,32 persen dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 372,2 miliar. Di bulan ini Bank Muamalat pun akan kembali membuka kantor cabang baru di Gorontalo.