Ustaz Dhani CGM BSF

Bukan Budaya Asli Sunda, Cap Go Meh Malah Mengundang Kemusyrikan!

Melainkan budaya leluhur bangsa China yang sarat dengan nuansa kemusyrikan, yang dapat mengundang bencana dan azab dari Allah.

Hal ini dinyatakan oleh Ustaz Willyuddin A. R. Dhani (Ustaz Dhani) dari Komunitas Cinta Tauhid dan Cinta Qur’an, Bogor melalui keterangan tertulisnya kepada MySharing, Sabtu (8/2).

Menurutnya, perayaan Cap Go Meh – Bogor Street Festival (CGM –BSF), sebagai kegiatan unjuk seni budaya asli Sunda, yang langsung difasilitasi oleh jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor perlu ditinjau ulang. “Dari berbagai sisi, aqidah, sosial kemasyarakatan kegiatan tersebut lebih banyak menimbulkan madhorot dari pada manfaat”, kata Ustaz Dhani.

Sekjen Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) Bogor Raya ini menjelaskan, perayaan CGM bukanlah budaya asli Sunda, tapi budaya leluhur orang China yang sarat dengan nuansa kemusyrikan, yang dapat mengundang bencana dan azab dari Allah Swt.

“Dari sisi aqidah, jelas CGM menjadikan kaum Muslim Bogor masuk perangkap kemurtadan dan kesyirikan tanpa disadarinya. Contoh kasat mata yang tidak bisa disangkal adalah mereka dengan enteng mudah meninggalkan shalat di antara shalat lima waktu”, kata Ustaz Dhani menjelaskan.

Dari sisi aqidah dan ibadah,  kemusyrikan adalah dosa besar yang tidak akan diampuni Allah Swt karena merupakan kedzaliman dan kesesatan yang sangat nyata (QS. Annisa’ (4):48-116), dan menghapus amal kebaikan pelakunya (Qs. Az-Zumar (39):65)

Ditambah lagi menurutnya, dari sisi sosial ekonomi dan kemasyarakatan, jelas berdampak merugikan masyarakat, karena  menimbulkan kemacetan di jalanan, pemborosan bahan bakar dan menimbulkan polusi udara. Semua itu berdampak kerugian ekonomi.

“Mungkin hanya akan menguntungkan oknum-oknum yang cinta dunia, karena mereka mendapatkan upeti (sogokan) dari mereka? Wallahu a’lam.  Yang jelas mudharatnya lebih besar dari pada manfaatnya.  Oleh karena itu masyarakat Bogor harus disadarkan terhadap masalah ini agar tahun-tahun yang akan datang CGM-BSF tersebut ditolak dilakukan di Kota Bogor”, kata Ustaz Dhani menegaskan.

CGM-BSF digelar pada Sabtu (8/2) di kawasan Suryakencana, Bogor Tengah. Ini memang kawasahan Chinatown. Acara yang mengusung tagline “Ajang Budaya Pemersatu Bangsa” itu dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi, Danrem 061/Sk Brigjen Novi Helmy Prasetya, Wali Kota Bogor Bima Arya, Wakil Wali Kota Bogor Dedi Rachim dan jajaran Forkopimda Kota Bogor. Selain itu, tampak hadir beberapa tamu undangan duta besar.

Dari sisi aqidah, CGM menjadikan kaum Muslim masuk perangkap kemurtadan dan kesyirikan tanpa disadari Click To Tweet

Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Bima Arya mengatakan, Bogor Street Festival merupakan helatan kesenian dan kebudayaan untuk semua kalangan. “Hari ini segala rupa manusia ada di depan kita. Ada yang lansia, ada juga yang balita. Ada tentara, ada juga warga biasa. Semua agama juga ada di sini. Seluruh warna bisa dilihat ada di sini. Tujuannya pasti macam-macam. Ada yang ke sini karena ingin melihat atraksi kesenian, ada yang mau wisata kuliner, ada pula yang ingin cari jodoh,” ungkap Bima.

More Stories
BNI Syariah Bantu Masyarakat Terdampak Letusan Gunung Sinabung