Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) menegaskan bahwa produk snack kripik kentang “Pringles rasa Smokey Bacon” belum bersertifikasi halal.

Pernyataan Lukman tersebut sehubungan dengan isu yang mencuat di dunia maya mengenai salah satu cabang Tesco London melakukan kesalahan dengan promosi produk snack kripik kentang Pringles rasa Smokey Bacon untuk konsumen Muslim selama Ramadhan.
“Dalam standar sertifikasi halal, LPPOM MUI tidak menerima sertifikasi halal pada produk yang tertuliskan ‘Bacon’. Karena ‘Bacon’ tidak halal,” kata Lukman dalam rilisnya yang diterima MySharing, Jumat (3/7).
- CIMB Niaga Syariah Perluas Akses Layanan Perbankan Syariah di Bogor, Resmikan Digital Branch
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
Lukman mengimbau umat Muslim harus meningkatkan kewaspadaan yang ekstra ketat bilamana ingin membeli makanan cepat saji atau instan, terutama produk impor. Pasalnya, tegas dia, pilihan rasa Smokey Bacon pada Pringles, di mana bacon identik dengan olahan babi yang dianggap haram bagi umat Muslim. “Kata bacon itu adalah daging babi yang telah digaramkan atau diasapkan,” ujarnya.
Lukman menyarankan agar umat Muslim memastikan membeli produk yang sudah bersertifikasi dan berlogo halal, karena sudah terjamin kepastian halalnya. Untuk mempermudah konsumen Muslim, dalam hal ini, LPPOM MUI telah memberikan layanan-layanan halal, di antaranya melalui aplikasi halal di smartphone, sms halal, hingga layanan QR Code untuk restoran-restoran bersertifikasi halal
Dari laporan The Independent, Rabu (24/6), tampilan promisi pertama kali disadari seorang warga Muslim Inggris yaitu Raza Hassan saat mengunjungi Tesco di Liverpool Street. Ada susunan Pringles Smokey Bacon dengan latar belakang rak bertuliskan “Ramadhan Mubarak”.
Raza, lalu memotreynya dan mengunggah ke twitter. Komentar pun bermunculan dari pengguna media sosial hingga akhirnya produk camilan asal AS ini mencuat dan banyak umat Muslim menanyakan kehalalannya.

