Asosiasi Chef Peduli Halal memeriahkan perhelatan Indonesia International Halal Expo (INDHEX) 2014 lewat Bogasari Halal Cooking Demo.

Pada kesempatan ini, Chef Herman dari Asosiasi Chef Peduli Halal mendemokan proses membuat bolu kukus zebra dengan didampingi Farha, mahasiswi Universitas Juanda Bogor, Jawa Barat. Farha sangat antusias mengikuti arahan chef Herman dalam membuat bolu dengan mengocok campuran bahan-bahan ke dalam mixer dalam hitungan menit yang ditentukan.
Setelah proses mixer selesai, adonan bolu kukus zebra ini dibagi dua ke dalam mangkok warna putih. Satu adonan diberi pewarna coklat, lalu diaduk hingga merata lalu dimasukkan ke dalam plasti. Sedangkan adonan satunya tetap putih tanpa campuran warna, dan juga dimasukkan ke dalam plastik.
Ujung kedua plastik berisi adonan tersebut digunting untuk memudahkan proses penuangan ke dalam loyang. Chef Herman memegang plastik adonan putih, sedangkan Farha plastik adonan coklat. Keduanya, lalu selang-seling memasukkan adonan itu ke dalam loyang berbentuk bulat hingga putaran warnanya terlihat bagus. Setelah adonan merata, lalu loyang dimasukkan ke dalam dandang, siap di kukus selama 45 menit. Hasil bolu kukus zebra kreasi chef Herman dan Farha pun siap disantap tanpa ragu karena semua bahannya halal, termasuk tepung Bogasarinya.
- CIMB Niaga Gaungkan The Cooler Earth 2025, Ajak Masyarakat Partisipasi Gerakan Keberlanjutan
- BSI Siapkan Promo Beli Emas Sekaligus Berdonasi
- CIMB Niaga Syariah Akan Menjadi Salah Satu Pilar Penting dalam Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional
- CIMB Niaga Gelar Workshop dan Kelas Jurnalisme Inspiratif, Dorong Peningkatan Kompetensi Jurnalis
Menurut Herman, semua bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bola kukus zebra telah memperoleh sertifikasi halal MUI. ”Bolu kukus zebra ini lezat, sehat dan berkah,” kata Herman kepada MySharing di Jakarta International Expo (JIExpo) belum lama ini. Ia juga mengungkapkan sebagai seorang Muslim yang berprofesi sebagai chef wajib menjalankan perintah agama dengan mengolah dan menyajikan makanan halal. Apalagi chef yang bergabung dengan Asosiasi Chef Peduli Halal, harus mengutamakan halal untuk kenyamanan konsumen.
Namun, Herman mengeluhkan di negara yang mayoritas Muslim seperti Indonesia masih belum ada aturan hukum yang tegas mengatur restoran harus menyediakan makanan halal. Selain itu, tidak semua pemilik restoran peduli dengan halal.Padahal, tegasnya, halal telah menjadi budaya hidup global di negara-negara lain seperti Jepang, Korea dan Thailand yang mayoritas penduduknya adalah non Muslim. Indonesia seharusnya menjadi kiblat dunia dalam hal produk halal. Tentunya, kesadaran produsen atau pemilik restoran di Indonesia untuk peduli halal harus ditingkatkan. “Apalagi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MAE) 2015 tinggal di depan mata, dan produk halal bisa mendongkrak daya saing dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menuturkan, bekerja dengan profesi apapun yang dijalani seharusnya merupakan ibadah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Profesi yang dijalani itu merupakan wasibah dan iktiar untuk mendapatkan rizki yang halal dari Allah SWT yang patut disyukuri. “Menjadi Chef halal itu merupakan salah satu wujud rasa syukur atas pekerjaan yang menjadi wasibah guna mendapatkan rizki yang halal dari Allah SWT,” tegas Herman.

