Din: MUI Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) merayakan Milad ke 40 tahun dengan konsisten menjadi pelayan umat dan mitra bagi pemerintah memajukan Indonesia.

Ketua Umum MUI Din Syamsuddin.
Ketua Umum MUI Din Syamsuddin.

Dalam sambutannya pada Milad MUI Ke 40 tahun Senin malam (27/7), Ketua Umum MUI Din Syamsuddin mengatakan MUI bertekad untuk mempekuat cita-cita menjadi khadimul ummah dan shadiqul hukumah atau pelayanan umat dan mitra pemerintah di usia yang kini memasuki 40 tahun. Karena, tegasnya, sejak berdiri 26 Juli 1975, MUI menjalani beberapa periode yang turut mempengaruhi wajah lembaga musyawarah ulama zuama dan cendekiawan Muslim. “MUI dituntut perannya untuk lebih aktif, dinamis dan konstruktif menjadi perekat umat Islam,” kata Din, dalam rilisnya yang diterima MySharing, Rabu (28/7).

Lebih lanjut Din menyatakan, usia 40 tahun cukup spesial bagi MUI. Bahkan Din pun mengutif istilah barat yaitu “life begins at 40’’ atau berarti hidup dimulai pada umur 40 tahun. Dalam sejarah Islam pun, usia Rasulullah SAW ketika menerima wahyu pertama kali juga pada umur 40 tahun. “40 tahun adalah usia kematangan dan kedewasaan,” tegasnya. Baca: MUI: Kerukunan Beragama Menjadi Ancaman Bagi Negara

Dian pun menceritakan perjalanan MUI sejak awal didirikan empat dasawarsa lampau. Din menyebutnya, MUI pada periode pertama atau sejak didirikan hingga reformasi kental dengan wajah sebagai pelayan pemerintah. Setelah reformasi, MUI lalu bertransformasi menghadapi kritik zaman dengan mengukuhkan diri sebagai pelayan umat.

Meski demikian, Din menyadari bahwa untuk menyelesaikan masalah umat yang begitu besar perlu adanya sinergi dengan banyak pihak termasuk pemerintah. MUI menganggap semua pihak sebagai mitra strategis karena masalah umat begitu besar dan butuh keikut sertaan banyak pihak. “Atta’awunalal birri wat taqwa (kerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan),” ujarnya. Baca: Ormas Islam Harus Bersatu Hadapi MEA

Din menyatakan, sebagai shadiqul hukumah atau mitra pemerintah tidak menghalangi MUI untuk tetap beramar ma’ruf dan nabi munkar. Din pun mengimbau agar umat Islam yang mayoritas di Indonesia harus menjadi mayoritas kualitatif bukan hanya sekedar kuantitatif. “Umat Islam tegas Din, harus menjadi penentu masa depan Indonesia karena maju mundurnya Indonesia berkaitan dengan maju mundurnya umat Islam,” ujarnya.

Tasyakur Milad MUI ke 40 tahun, dihadiri segenap pimpinan MUI, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, perwakilan lintas agama, dan duta besar negara-negara Islam.