Memperkuat ekonomi umat harus menjadi komitmen, bisa diawali dengan mencintai produk yang dihasilkan umat Muslim.
Aksi Bela Islam yang terlaksana pada 4 November 2016 dan 2 Desember 2016 silam telah mengundang begitu banyak perhatian massa, terutama massa Islam. Dari aksi tersebut kemudian bermunculan ide untuk memperkuat ekonomi ummat, mulai dari mendukung bisnis wirausahawan muslim hingga memindahkan dana ke bank syariah. Bahkan ada wacana mendirikan bank syariah 212, koperasi syariah 212 dan minimarket 212.
”Saya dukung semangat aksi 212 yang sangat positif dalam memperkuat ekonomi umat, tinggal energi positif itu disatukan pada tempat-tempat yang tepat,” kata Pakar Ekonomi Syariah Irfan Syauqi Beik kepada MySharing disela-sela Ijtima Sanawi DPS di Hotel Mercury Ancol, Jakarta, belum lama ini.
Terkait perbankan syariah 212, menurut irfan, menyalurkan energinya adalah bagaimana masyarakat yang yang menabung di bank konvensional didorong beralih ke bank syariah. “Kalau ada wacana membuat bank baru, menurut saya lebih baik kita isi beberapa bank syariah yang mayoritas sahamnya dimiliki asing, mungkin bisa kita dorong masyarakat Muslim untuk sama-sama membeli bank-bank syariah tersebut,” ungkap Irfan.
Adapun untuk pengembangan sektor riil seperti minimarket 212. Menurut Irfan, ini suatu hal yang harus disambut, tinggal bagaimanai kita memulai menginisiasi ini semua tentu harus ada pihak yang memiliki kepedulian yang bisa mewujudkan ide ini.
Tapi paling tidak tegas Irfan, sebelum terwujud yang harus kita lakukan adalah mendorong umat untuk membeli produk-produk yang dihasilkan umat Muslim. Atau bisa juga membeli barang-barang kebutuhan hidup di warung terdekat rumah yang penjualnya adalah Muslim. Misalnya, Irfan mencontohkan, kalau warung ya prioritaskan membeli di warung tetangga. Kalau barang yang akan kita beli tidak ada di warung tersebut, baru ke tempat lain yang tentu penjualnya juga ummat Muslim.
“Kita tidak boleh luput dan itu harus menjadi bagian komitmen bersama. Daripada membeli makanan di toko-toko milik asing dan lainnya, lebih baik beli produk yang dihasilkan umat Muslim supaya omzetnya berkembang,” ujar Irfan.
Menurut Irfan, memang ini tidak mudah, tetapi paling tidak mindset untuk membeli produk sesama ummat harus dibangun. Merubah mindset ini memberikan kolerasi karena bisnis itu akan berjalan kalau ada yang beli.
”Sehebat apapun rancangan bisnis kalau nggak ada yang beli nggak akan jalan. Nah, mindset ini saya kira bahwa kita nggak usah merasa bangga produk luar negeri, tapi kita bangga kalau beli produk sesama umat Islam,” ujar Irfan.
Lalu siapa yang harus mensosialisasikan?Tentu menurut Irfan, ini tugas kita bersama para ustas alim ulama untuk mengkampanyekan kepada masyarakat karena bagaimana pun posisi ulama ini sagat sentral dan strategis. Kemudian juga para akademisi dan masyarakat juga mempunyai tanggungawab besar untuk mensosialisasikan kepada ummat Muslim. Bisa dimulai dari diri kita sendiri memberi contoh sahabat Muslim lainnya untuk membeli produk umat Muslim dan membeli di warung milik umat Muslim.
Irfan menghimbau agar semangat seperti ini dimunculkan, dengan harapan supaya 57 juta usaha mikro milik umat Muslim bisa naik kelas. ”Nah, salah satu faktor UKM untuk naik kelas itu ada pembelian. Ketika permintaan meningkat akan memicu sisi produksi. Ini akan mendorong usaha mikro untuk naik kelas. Ini menjadi tugas kita, dan nggak usaha terlalu cari kualitas yang bagus. Saya kira faktor pertimbangan utama adalah kita harus mencintai produk saudara kita,” tegas Irfan.
[bctt tweet=” @irfan_beik: Jangan bangga beli produk luar negeri!” username=”my_sharing”]
Edukasi Prinsip Syariah Bagi Pengusaha Muslim
Terkait produksi, lanjut dia, juga harus memberikan edukasi kepada para pengusaha Muslim kalau berbisnis harus sesuai prinsip syariah. Karena menurut Irfan, kalau sesuai syariah maka produk yang dihasilkannya akan lebih berkualitas. Misalnya, bisnis yang tidak menimbulkan kemudaratan. Maka pedagang-pedagang kecil tidak akan mungkin mencampurkan bahan-bahan yang membahayakan.
”Kita sebagai konsumen harus mencintai produk umat Muslim, kemudian dari sisi pembisnis harus didorong untuk menerapkan bisnis sesuai prinsip syariah. Kalau mereka dapat untung, nabung dong di bank syariah dan jangan lupa zakat,” ujar Irfan.
Kembali Irfan menegaskan, bahwa kalau sebuah bisnis dibangun dengan prinsip syariah akan berkualitas. Ini harus disadari oleh pengusaha Muslim Indonesia. Semisalnya, kata Irfan, kenapa harus halal? Ya karena ternyata daging sapi yang diproses secara halal itu lebih berkualitas, begitu pula hewan yang disembelih secara syariah lebih berkualitas, darah kotor keluar tambah pakai bismillah saat menyembelihnya ada keberkahan.
”Berbisnis secara syariah itu adalah sebenarnya berbisnis yang berkualitas. Karena Islam itu sangat menekankan kualitas. Ini yang harus disadari bahwa edukasi itu tidak hanya kepada konsumen tapi juga produsen supaya dia juga meningkatkan shariah complaint-nya,” pungkas Irfan.

