Kaedah Fikih atau al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah

[sc name="adsensepostbottom"]

usul fikih dan ekonomi islam

a. Definisi al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah

Pengertian kaedah-kaedah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah), dapat diurai dari dua kata yaitu kaedah-kaedah (qawa‘id) dan fikih (fiqh). Sebagaimana dalam studi ilmu fikih kedua adalah merupakan term yang perlu untuk dijelaskan. Di antara arti kaedah secara bahasa (etimologi) adalah al-asas (dasar), yaitu yang menjadi dasar berdirinya sesuatu.[2] Dalam kamus Arab–Indonesia al-Munawwir selain al-asas (dasar, asas, dan pondasi) kaedah juga disebut al-qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-mabda’ (prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara).[3]

TM. Hasbi Ash-Shiddieqy sebagaimana dikutip oleh Faturrahman Djamil dalam bukunya Filsafat Hukum Islam menyebutkan bahwa sebagian ahli hukum merumuskan kaedah (qawa‘id) dengan :

ﺣُﻜْﻢٌ ٲﻏْﻠَﺒِﻲٌّ ﻳَﻨْﻂَﺒِﻖُ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﺟُﺰْﺋِﻴَّﺎﺗِﻪ
“Suatu hukum dominan yang mencakup seluruh bagiannya”[4]
[su_box title=” Seri ‘Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam’ oleh Muhammad Zaki, Ketua Prodi Ekonomi Syariah STAI Yasni Muara Bungo.Ini adalah bagian 6.” style=”soft” box_color=”#cc3333″ radius=”5″]

  1. Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam
  2. Pengertian Fikih Secara Bahasa dan Istilah
  3. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Fikih 3
  4. Usul Fikih: Pengertian Secara Bahasa
  5. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Usul Fikih
  6. al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah
  7. Kedudukan Fikih, Usul Fikih dan al-Qawa’id al-Fiqhiyyah dalam Ekonomi Syariah

[/su_box]
Kaedah (qawa‘id) menurut Ahmad Muhammad asy-Syafi‘i adalah hukum-hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikuti oleh satuan-satuan hukum juz’i yang banyak”.[5] Sementara arti fikih dalam pengertian bahasa (etimologi) adalah paham atau mengerti.[6] Adapun dalam istilah (terminologi), fikih dalam pengertian ini berarti ilmu hukum atau syariat, dan orang yang ahli dalam ilmu ini disebut faqih. Dalam pengertian yang lebih luas, menurut ulama–ulama, fikih adalah ilmu untuk mengetahui ketentuan-ketentuan hukum cabang (far‘i) dari syariat yang diperoleh dari dalil–dalil perincian syariat.[7] Menurut Amir Syarifuddin kata fikih “adalah hasil penemuan mujtahid dalam hal–hal yang tidak dijelaskan oleh nas”.[8]

Pengertian fikih dari beberapa definisi yang dikemukakan fuqaha’ berkisar pada rumusan berikut :[9]

  1. Fikih adalah ilmu tentang hukum merupakan bagian dari syariah.
  2. Hukum yang dibahas mencakup hukum amali.
  3. Obyek hukum pada orang-orang mukallaf.
  4. Sumber hukum berdasarkan Alquran dan as-sunnah atau dalil lain yang bersumber pada kedua sumber utama tersebut.
  5. Dilakukan dengan jalan istinbat atau ijtihad sehingga kebenarannya kondisional dan temporer adanya.

Muhammad Abu Zahrah menjelaskan bahwa kaedah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah) adalah himpunan hukum–hukum syarak yang serupa (sejenis) lantaran ada titik persamaan, atau adanya ketetapan fikih yang merangkaikan kaidah–kaidah tersebut.[10] Lebih lanjut Muhammad Abu Zahrah menjelaskan bahwa kaedah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah) adalah kaedah atau teori yang diambil dari atau menghimpun masalah–masalah fikih yang bermacam–macam sebagai hasil ijtihad para mujtahid.[11] Menurut T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, kaedah–kaedah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah) adalah prinsip–prinsip (mabda’) dan dabit–dabit fikih yang masing–masing mengandung hukum yang umum.[12] Sedangkan menurut Mukhtar Yahya dan Fatchur Rahman dalam buku Dasar-Dasar Pembinaan Fikih Islam, kaedah–kaedah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah) ialah kaedah-kaedah umum yang meliputi seluruh cabang masalah-masalah fikih yang menjadi pedoman untuk menetapkan hukum setiap peristiwa fikih baik yang telah ditunjuk oleh nash maupun yang sama sekali belum ada nasnya.[13]

Dengan demikian kaedah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah) dapat diartikan sebagai himpunan kaedah-kaedah fikih yang umum yang meliputi seluruh cabang masalah-masalah fikih yang menjadi pedoman untuk menetapkan hukum setiap masalah-masalah fikih baik yang telah ditunjuk oleh nas maupun yang sama sekali belum ada nasnya.

b. Macam-Macam al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah

Para ulama membagi kaedah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah) kedalam dua bagian, yaitu:

  1. Kaedah fikih induk/dasar (al-qawa‘id al-fiqhiyyah al-asasiah), yaitu prinsip-prinsip umum yang menjadi pedoman untuk menetapkan hukum dari setiap peristiwa fikih baik yang sudah maupun belum ada nasnya.[14] Kaedah-kaedah ini disebut kaedah induk karena berpuluh-puluh kaedah fikih lainnya bernaung dan dapat dikembalikan kepadanya. Kaedah fikih induk ini ada lima dan disebut juga sebagai ” qawa‘idul-khams”.[15]
  2. Kaedah fikih yang bersifat umum (al-qawa‘id al-fiqhiyyah gairu asasiah), yaitu prinsip-prinsip yang bersifat umum yang karenanya dapat menampung seluruh bagian-bagiannya sampai yang terperinci sama sekali.[16] Kaedah ini banyak sekali jumlahnya, sebagian ulama menetapkan sebanyak empat puluh kaidah dan sebagian yang lain menetapkan lebih dari itu.[17]

c. Tujuan al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah

Tujuan al-qawa‘id al-fiqhiyyah adalah untuk memudahkan mujtahid dalam meng-istinbat-kan hukum yang sesuai dengan tujuan syarak dan kemaslahatan manusia. Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah fikih adalah sebagai suatu jalan untuk mendapat kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut.[18]

Mukhtar Yahya dan Fatchur Rahman dalam buku Dasar-Dasar Pembinaan Fikih Islam, menyebutkan dua tujuan dari kaidah-kaidah fikih. Pertama, sebagai tempat kembali bagi para mujtahid dalam seluk-beluk masalah fikih, dan Kedua, sebagai dalil untuk menetapkan hukum masalah-masalah baru dalam fikih yang tidak ditunjuk oleh nas yang sarih.[19]

d. Kedudukan al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah

Hal yang berhubungan dengan fikih sangat luas, mencakup berbagai hukum furu’. Karena luasnya, maka itu perlu ada kristalisasi berupa kaedah–kaedah umum (kulli) yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah–masalah furu’ menjadi beberapa kelompok. Dan tiap-tiap kelompok itu merupakan kumpulan dari masalah–masalah yang serupa. Hal ini akan memudahkan para mujtahid dalam meng-istinbat-kan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa dibawah lingkup satu kaedah.[su_pullquote align=”right”]”Kedudukan kaedah fikih dalam konteks studi fikih adalah simpul penyederhana dari masalah–masalah fikih yang begitu banyak”[/su_pullquote]

Dalam pembahasannya, al-qawa‘id al-fiqhiyyah sering menggunakan sistematika atas dasar keabsahan kaedah, atas dasar abjad, atau berdasarkan sistematika fikih. Berdasarkan keabsahan kaedah, dibagi atas kaedah-kaedah asasiah dan kaidah-kaidah gairu asasiah. Jaih Mubarok membedakan kedudukan kaedah fikih menjadi dua, yaitu dalil pelengkap dan dalil mandiri. Yang dimaksud dengan dalil pelengkap adalah bahwa kaedah fikih digunakan sebagai dalil setelah menggunakan dua dalil pokok, yaitu Alquran dan sunnah. Sedangkan yang dimaksud dengan dalil mandiri adalah bahwa kaedah fikih digunakan sebagai dalil hukum yang berdiri sendiri, tanpa menggunakan dua dalil pokok.[20]

Atas dasar kenyataan itu, kedudukan kaedah fikih dalam konteks studi fikih adalah simpul penyederhana dari masalah–masalah fikih yang begitu banyak. Untuk itu, al-Syaikh Ahmad Ibn al-Syaikh Muhammad al-Zarqa’ berpendapat ”kalau saja tidak ada kaedah fikih ini, hukum fikih yang bersifat furu’iyyat akan tetap bercerai-berai”[21] Abd al-Wahab Khallaf dalam kitab Usul Fiqh-nya[22] berkata bahwa nas–nas tasyri’ telah mensyariatkan hukum terhadap berbagai macam undang-undang, baik mengenai perdata, pidana, ekonomi dan undang–undang dasar telah sempurna dengan adanya nash–nash yang menetapkan prinsip–prinsip umum dan aturan–aturan tasyri’ yang kulli yang tidak terbatas terhadap suatu cabang undang–undang. Prinsip–prinsip umum dan aturan–aturan kulli tersebut memang dibuat sebagai petunjuk bagi mujtahid dalam menetapkan hukum dan menjadi pelita untuk mewujudkan keadilan dan kemaslahatan umat. Karena Alquran hanya menerangkan dasar–dasar yang menjadi sendi–sendi hukum itulah maka tampak keluasan dan elastisitas hukum Islam.

Ungkapan Khallaf tersebut mengisyaratkan bahwa lapangan fikih begitu luas, karena mencakup berbagai hukum furu’, karena itu perlu adanya kristalisasi berupa kaedah-kaedah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah–masalah furu’ menjadi beberapa kelompok, dan tiap-tiap kelompok itu merupakan kumpulan dari masalah–masalah yang serupa. Dengan berpegang kepada kaedah–kaedah fikih (al-qawa’id al-fiqhiyyah), para mujtahid merasa lebih mudah dalam meng-istinbat-kan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah serupa di bawah lingkup satu kaidah. Banyak fuqaha’ yang menyebutkan:

مَنْ رَاعَى الأُصُوْلَ كاَنَ حَقِيْقاً بِالْوُصُوْلِ وَمَنْ رَاعَى الْقَوَاعِدَ كاَنَ حَلِيْقاً بِإِدْرَاكِ الْمَقَاصِدِ
“barang siapa memelihara usul, maka ia akan sampai pada maksud, dan barang siapa yang memelihara al-qawa’id selayaknya ia mencapai maksud”.[23]

Ungkapan tersebut menghantarkan kepada kepada kesimpulan bahwa kaedah–kaedah itu menyingkapkan jalan–jalan yang ditempuh oleh para ahli fikih sehingga kita dapat mencontoh metode yang mereka tempuh. Andaikata kaedah–kaedah itu tidak ada, tentulah hukum–hukum fikih merupakan cabang–cabang yang berserak–serak tanpa ikatan dasar yang mengarahkan dan membuka jalan bagi usaha mengadakan perbandingan.[24]

[1] Amir Syarifuddin, Garis…, op.cit, hlm. 41-42.
[2] Rachmat Syafe’i, Ilmu Usul Fikih, (Bandung : Pustaka Setia, 2007), hlm. 251.
[3] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab–Indonesia, Cet.XXV, (Surabaya : Pustaka Progressif, 2002), hlm. 1138.
[4] Faturrahman Djamil, Filsafat Hukum Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 76.
[5] Ahmad Muhammad asy-Syafi‘i, Usul al-Fiqh al-Islam, (Iskandariyah : Muassasah S|aqofah al-Jami‘iyyah, 1983), hlm. 4, sama dengan yang ditulis oleh Beni Ahmad Saebani, Filsafat Hukum Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), hlm. 277.
[6] Sobhi Mahmassani, Falsafah at-Tasyri, Terj. Ahmad Sudjono, Filsafat Hukum Dalam Islam, (Bandung : Alma’arif, 1976), hlm. 31.
[7] Ibid., hlm. 32.
[8] Amir Syarifuddin, Ushul…, op.cit, hlm. 2.
[9] Faturrahman Djamil, Filsafat Hukum Islam, h. 9. Lihat pula Amir Syarifuddin, Ushul Fikih Jilid 1, hlm. 4.
[10] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Terj. Saefullah Ma’shum, dkk., Cet. VI, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2000), hlm. 7.
[11] Ibid. hlm. 7.
[12] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam, Jilid II, Cet.VI, (Jakarta : Bulan Bintang, 1981), hlm. 101.
[13] Mukhtar Yahya dan Fatur Rahman, op.cit, hlm. 485.
[14] Ibid, hlm. 485.
[15] Ibid, hlm. 487.
[16] Ibid, hlm. 522.
[17] Ibid, hlm. 485.
[18] Asjmuni A. Rahman, Qoidah – Qoidah Fikih, (Jakarta : Bulan Bintang, 1976), hlm. 17.
[19] Mukhtar Yahya dan Fatur Rahman, op.cit, hlm. 485.
[20] Jaih Mubarok, Kaidah Fikih: Sejarah dan Kaidah Asasi, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 29 – 40.
[21] Ibid., hlm. 40.
[22] ‘Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Usul al-Fikih, Cet. XII, (Kuwait : Dar al-Qalam, 1987), hlm. 197–199.
[23] Asjmuni A. Rahman, op.cit, hlm. 17.
[24] Faturrahman Djamil, op.cit, hlm. 80.