Kedudukan Fikih, Usul Fikih dan al-Qawa’id al-Fiqhiyyah dalam Ekonomi Syariah

[sc name="adsensepostbottom"]

usul fikih dan ekonomi islam

Sebagaimana yang telah dikemukakan pada pembahasan terdahulu, bahwa salah satu cabang dan objek kajian fikih adalah mengatur hubungan antara sesama manusia dalam rangka menegakkan hablun minannas, disamping mengatur hubungan dengan Allah swt. dalam rangka menegakkan hablun minallah.
[su_box title=” Seri ‘Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam’ oleh Muhammad Zaki, Ketua Prodi Ekonomi Syariah STAI Yasni Muara Bungo.Ini adalah bagian 7.” style=”soft” box_color=”#cc3333″ radius=”5″]

  1. Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam
  2. Pengertian Fikih Secara Bahasa dan Istilah
  3. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Fikih 3
  4. Usul Fikih: Pengertian Secara Bahasa
  5. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Usul Fikih
  6. al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah
  7. Kedudukan Fikih, Usul Fikih dan al-Qawa’id al-Fiqhiyyah dalam Ekonomi Syariah

[/su_box]

Kedua hubungan tersebut merupakan misi kehidupan manusia yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Hubungan dengan sesama manusia, seperti halnya dalam ekonomi akan bernilai ibadah bila dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah swt. yang diuraikan dalam kitab fikih, khususnya fikih muamalah. Keberadaan fikih muamalah tidak bisa dilepaskan dari keberadaan ilmu usul fikih yang menjadi dasar atau pondasi bagi para ulama untuk menggali dan merumuskan hukum fikihnya.

Ekonomi Syariah dengan segala aktivitasnya merupakan bagian dari hubungan antara sesama manusia yang perlu mendapat pedoman serta petunjuk dari hukum syarak, sehingga pelaku ekonomi syariah terhindar dari aktivitas yang dilarang oleh Allah swt.. Aktivitas ekonomi senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan kemajuan dalam kehidupan manusia.

Oleh karena itu, aturan Allah swt. yang terdapat dalam Alquran tidak mungkin mampu menjangkau seluruh aktivitas ekonomi yang terus berkembang, mengingat Alquran hanya memberikan pedoman sebagai garis-garis besar. Adapun aturan praktis yang lebih khusus datang melalui hadits Nabi Muhammad saw.

Namun jika masih terdapat hal-hal yang terkait dengan perkembangan aktivitas ekonomi dan belum secara jelas diatur dalam kedua hukum syarak tersebut (Alquran dan hadis), maka dapat disimpulkan oleh para ulama/faqih dengan menggunakan al-qawa’id al-fiqhiyyah, sebagai tempat kembalinya bagi para mujtahid dalam seluk-beluk masalah fikih terkait dengan aktivitas ekonomi, dan sebagai dalil untuk menetapkan hukum dalam masalah-masalah ekonomi yang yang belum disimpulkan oleh nas yang sarih.

Dengan demikian, kedudukan fikih, usul fikih, dan al-qawa’id al-fiqhiyyah tidak akan bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi syariah, terutama dalam menghadapi perkembangan ekonomi secara umum seperti saat ini. Bahkan ketiga disiplin ilmu tersebut merupakan landasan bagi terjadi aktivitas ekonomi syariah agar berjalan sesuai kehendak Allah swt.

C. PENUTUP

Fikih merupakan seperangkat aturan hukum atau tata aturan yang menyangkut kegiatan manusia dalam berinteraksi, bertingkah laku dan bersikap yang bersifat lahiriah dan amaliah. Fikih merupakan hasil penalaran dan pemahaman yang mendalam terhadap syariah yang dilakukan oleh para mujtahid berdasarkan pada dalil-dalil yang terperinci. Fikih terbatas pada hukum-hukum yang bersifat aplikatif dan furu’iy (cabang) dan tidak membahas perkara-perkara i’tiqady (keyakinan) walaupun pada awal kemunculannya merupakan bagian yang tidak terpisah.

Usul fikih adalah seperangkat pedoman, aturan-aturan atau kaedah-kaedah yang membatasi dan menjelaskan cara-cara yang harus diikuti oleh seorang mujtahid dalam upayanya menggali dan melahirkan hukum syarak dari dalil yang telah ada, baik dalam Alquran maupun sunnah.

Ilmu fikih telah terbentuk sejak masa Nabi Muhammad saw. dalam bentuk yang sederhana dan mudah dilaksanakan yang disebut ‘fikih sunnah”. Dengan wafatnya Nabi Muhammad saw. terjadilah perubahan yang besar dalam kehidupan masyarakat, sehingga memerlukan pemikiran mendalam atau nalar dari para ahli. Dalam menghadapi hal tersebut berkembanglah pemikiran para sahabat dalam merumuskan fikih, sehingga masa ini dapat disebut dengan masa pengembangan fikih.

Sesudah masa sahabat, penetapan fikih dengan menggunakan sunnah dan ijtihad berkembang dan meluas, baik dengn menggunakan hadits Nabi Muhammad saw. (ahlul hadis), maupun dengan menggunakan akal atau ra’yu (ahlu al-Ra’yi).

Pada akhir masa gemilang ijtihad, kitab-kitab fikih telah tersusun sesuai dengan aliran berpikir madzhab masing-masing yang memberikan kemudahan bagi umat Islam dalam beramal, namun menyebabkan terhentinya daya ijtihad. Upaya reaktualisasi hukum dalam menghasilkan formulasi fikih yang baru terjadi karena adanya keinginan umat Islam untuk mengembalikan aturan kehidupannya kepada hukum Allah swt., akan tetapi kitab-kitab fikih belum seluruhnya memenuhi keinginan tersebut.

Usul fikih lahir pada abad kedua dan masih bercampur dengan pembahasan ilmu fikih. al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i (150–2014 H) adalah orang pertama yang mengkodifikasi pembahasan dan kaedah-kaedah ilmu usul fikih dalam satu kitab yang sangat berharga dan dapat dikaji oleh generasi sekarang melalui karyanya yakni kitab ar-Risalah.

Secara garis besar, fikih memuat dua hal pokok, yakni fikih ibadah dan fikih muamalah yang memiliki beberapa cabang yaitu: fikih muamalah dalam artian khusus, fikih munakahat, fikih mawaris, fikih jinayat, fikih murafa‘at atau qada, fikih dusturiyah, dan fikih dauliyah. Sedangkan objek kajian usul fikih adalah dalil-dalil atau sumber hukum syarak beserta hukum-hukum yang terkandung dalam dalil tersebut, dan kaedah-kaedah tentang usaha serta cara mengeluarkan hukum syarak dari dalil atau dari sumbernya.[su_pullquote align=”right”]”Fikih, usul fikih, dan al-qawa’id al-fiqhiyyah tidak akan bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi syariah, terutama dalam menghadapi perkembangan ekonomi secara umum seperti saat ini. Bahkan ketiga disiplin ilmu tersebut merupakan landasan bagi terjadi aktivitas ekonomi syari’ah agar berjalan sesuai kehendak Allah swt”[/su_pullquote]

Al-qawa’id al-fiqhiyyah dapat diartikan sebagai himpunan kaedah-kaedah fikih yang umum yang meliputi seluruh cabang masalah-masalah fikih yang menjadi pedoman untuk menetapkan hukum setiap masalah-masalah fikih baik yang telah ditunjuk oleh nas maupun yang sama sekali belum ada nasnya.

Ulama membagi kaedah fikih (al-qawa’id al-fiqhiyyah) kedalam dua bagian, yaitu, kaidah fikih induk/dasar (al-qawa’id al-fiqhiyyah al-asasiah), dan kaidah fikih yang bersifat umum (al-qawa’id al-fiqhiyyah gairu asasiah). Tujuan al-qawa’id al-fiqhiyyah adalah untuk memudahkan mujtahid dalam meng-istinbat-kan hukum yang sesuai dengan tujuan syarak dan kemaslahatan manusia dan sebagai suatu jalan untuk mendapat kemaslahatan dan menolak kerusakan serta cara mensikapi kedua hal tersebut.

Fikih, usul fikih, dan al-qawa’id al-fiqhiyyah tidak akan bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi syariah, terutama dalam menghadapi perkembangan ekonomi secara umum seperti saat ini. Bahkan ketiga disiplin ilmu tersebut merupakan landasan bagi terjadi aktivitas ekonomi syari’ah agar berjalan sesuai kehendak Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Pengantar Hukum Islam, Jilid II, Cet.VI. Jakarta: Bulan Bintang, 1981.
  2. Djamil, Faturrahman. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
    Effendi, Satria dan M. Zaeni. Usul Fikih. Jakarta: Prenada Media, 2005.
  3. Jumantoro, Totok dan Samsul Munir Amin. Kamus Ilmu Usul Fikih. Jakarta: Amzah, 2005.
  4. Khallaf, Abdul Wahhab. Ilmu Usul Fikih, Cet. XII. Kuwait: Dar al-Qalam, 1987.
    Mahmassani, Sobhi. Falsafah at-Tasyri’, Terj. Ahmad Sudjono, Filsafat Hukum Dalam Islam. Bandung: Alma’arif, 1976.
  5. Mubarok, Jaih. Kaedah Fikih: Sejarah dan Kaidah Asasi. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002.
  6. Munawwir, Ahmad Warson. al-Munawwir: Kamus Arab–Indonesia. Cet.XXV. Surabaya: Pustaka Progressif, 2002.
  7. Rahman, Asjmuni A. Qoidah–Qoidah Fikih. Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
    Saebani, Beni Ahmad. Filsafat Hukum Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
    Syafe’i, Rachmat. Fikih Mu’amalat. Bandung: Pustaka Setia, 2004.
  8. ________. Ilmu Usul Fikih. Bandung: Pustaka Setia, 2007.
  9. asy-Syafi‘i, Ahmad Muhammad. Usul al-Fiqh al-Islam. Iskandariyah: Muassasah Saqofah al-Jami‘iyyah, 1983.
  10. Syarifuddin, Amir. Garis-Garis Besar Fikih. Jakarta: Prenada Media, 2003.
    ________. Usul Fikih Jilid 1. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997.
  11. Wuzarah al-Awqaf wa asy-Syun al-Islamiyyah. al-Mausuah al-Fiqhiyyah. Kuwait: Wuzarah al-Awqaf wa asy-Syu’un al-Islamiyyah, Cet. 2, 1983 M/1404 H.
  12. Yahya, Mukhtar dan Fatchur Rahman. Dasar–Dasar Pembinaan Fikih Islam. Bandung: Alma’arif, 1986.
  13. Zahrah, Muhammad Abu. Usul al-Fikih, Terj. Saefullah Ma’shum, dkk., Cet. VI. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000