Berkat program pemberayaan ekonomi Dompet Dhuafa, kini Maman Suherman bersama teman-temannya bisa berbagi kepada kaum dhuafa.
Jangankan membangun Green House, untuk membuat sungkup tanaman pertanian saja, Maman Suherman, petani sayuran di Cipanas, Jawa Barat (Jabar) mengaku selalu mengalami kesulitan.
Ketika panen sayuran, hidupnya pun selalu terbelit kemiskinan, lantaran harga komoditi yang ditanamnya selama berbulan-bulan anjlok akibat ulah para tengkulak yang kerap mempermainkan harga. “Kadang harga dari pasar Rp 2000, dibohongi tengkulak Rp 1500,” kata Maman, pada acara #Zakat360 Buka Belenggu Kemiskinan di Gado-Gadong Boplo, Menteng, Jakarta, Rabu (10/5).
Namun keadaan itu segera berbalik 360 derajat ketika Dompet Dhuafa (DD) dengan program pemberdayaan ekonomi menyasar desa tempat tinggal Maman di Cipanas, tepatnya pada Janauri 2016. Ia mengaku bahagia karena dirinya menjadi salah seorang penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa sejak 2016 melalui Move to Muzaki.
Maman mengaku, saat ini sudah 30 orang yang bergabung di kelompok tani bersama dirinya, yang dibagi dalam tiga kelompok atau kampung yaitu, Padajaya, Pekalongan, dan Ciketu.
Ayah tiga anak ini bersyukur karena mendapat bimbingan langsung dari Dompet Dhuafa, yakni pembinaan tata cara bertani organik dan pemasaran. Bimbingan itu diikuti dengan pemberian bantuan benih-benih sayuran, obat-obatan, dan peralatan tani seperti semprotan, serta mobil untuk mengangkut sayuran.
“Dompet Dhuafa membantu saya dan teman-teman kelompok tani Sumber Jaya Tani dari mulai bertani hingga pemasaran. Alhamdulilah semua dibantu tuntas, saya bahagia sekali,” ujar Maman.
Maman mengaku, sekarang kelompok taninya sudah mampu mengirimkan sayuran ke Bogor dan Jakarta. Padahal sebelumnya, hasil panen sayuran hanya di jual di sekitar Cipanas. Itu pun lewat tengkulak, harga tidak ada alur, bahkan sering dibohongi. Namun kata dia, sejak dapat program Dompet Dhuafa berikut pembinaannya, kini pemasaran sayuran langsung ke pedagang pasar.
Di atas lahan seluas 2000 meter yang tersebar di tiga desa yaitu Padajaya, Pekolongan dan Ciketuk, Maman dan anggota Sumber Jaya Tani memupuk impian. Saat ini kelompok taninya sudah mulai mengembangkan 30 macam sayur organik dengan harga mampu mencapai tiga kali lipat. Sayuran organik diantaranya, wortel, brokoli, bawang, daun gingseng, dan lainnya.
Penghasilan Maman yang sebelumnya Rp 700 ribu perbulan kini meroket di angka Rp 2,8 juta. Ini diungkapkan Maman berkat hadirnya Dompet Dhuafa yang menggeser posisi tengkulak dalam pemasaran sayur. “Alhamdulilah berkat penghasilan meningkat, anak kedua saya jadi bisa sekolah, sekarang.SMA kelas 2,” ucap Maman.
Dari sekali memasarkan sayuran, kata Maman, setiap anggota menyisihkan Rp 20.000 untuk dimasukan celengan. Ketika uang itu terkumpul banyak baru dibuka dan dibagikan untuk anak yatim dan kaum jompo.
[bctt tweet=”Penghasilan Maman, sebelumnya Rp 700 ribu/ bln kini Rp 2,8 juta” username=”my_sharing”]
Maman dan anggota kelompok tani Sumber Jaya Tani mengaku sangat bahagia karena sudah mampu menjalankan salah satu kewajiban sebagai Muslim, yaitu membayar zakat. “Alhamdulilah, saya dan teman-teman senang sekali, sekarang bisa berbagi ke anak yatim dan jompo. Kalau Idul Fitri, bagi-bagi zakat seperti beras. Kami dulu menerima manfaat zakat, sekarang bisa memberi,” pungkas Maman.

