Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono.

Kisah Segar dan Pilu di Posdaya

[sc name="adsensepostbottom"]

Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) terus mengembangkan pelatihan pendataan dan pemetaan keluarga. Berbagai pengalaman pun terukir dalam perjalanan Posdaya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin di Indonesia.

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono.
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono.

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono mengatakan, selama dua bulan ini, berturut-turut diadakan pelatihan pendataan dan pemetaan keluarga untuk tenaga inti dari LPPM dari 325 Perguruan Tinggi peserta gerakan pemberdayaan melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posdaya.

Setelah selesai, giliran pelatihan kepada para kader Posdaya dari ribuan desa dilaskanakan agar mereka dapat menularkannya kepada sekitar 4.500 Posdata di seluruh Indonesia.

Kisah segar dan haru melingkupi di antara para peserta pelatihan dan keluarga inti selama mengikuti kegiatan pelatihan pendataan dan pemetaan keluarga. “Maklum, mereka memang dianggap bakal bisa menjadi pelatih dan tutor di lingkungan Posdaya di desa dan di kelurahan sekitarnya,” kata Haryono. Baca:Mahasisa KKN Siapkan Peta Pendataan Keluarga.

Kalangan dosen banyak yang bersyukur karena melalui pelatihan ini, mereka bisa memberi petunjuk kepada mahasiswa yang dibinanya untuk lebih fokus dan sungguh-sungguh memperhatikan keluarga prasejahtera dan sejahtera I di Posdaya yang dibentuk dan dibinanya. Keluarga prasejahtera yang jumlahnya sekitar 11-20 di setiap 100 keluarga yang dibinanya dapat diketahui dengan jelas sebab-musababnya,

Dengan demikian, lanjut Haryono, setiap mahasiswa KKN tidak perlu harus berpidato panjang lebar. Tetapi dengan sangat tepat memberi petunjuk atau membantu keluarga yang bersangkutan mengikuti roadmap, rancangan kerja keras untuk menjadi keluarga sejahtera I dan selanjutnya melaju menjadi keluarga sejahtera II.

Menurutnya, setiap keluarga tidak perlu melompat-lompat dan harus bisa bekerja keras berkembang secara bertahap memenuhi syarat menjadi keluarga sejahtera I dan seterusnya menjadi keluarga sejahtera III plus. Keluarga prasejahtera yang masih jauh posisinya tidak perlu ngotot menjadi keluarga yang lebih tinggi.

Sementara itu, sanak saudaranya yang ingin berkumpul dan meminta bantuannya perlu diberi penjelasan bahwa keluarga yang bersangkutan masih berada pada posisi prasejahtera. Sehingga, para peminta tolong perlu mengerti dan meminta tolong kepada keluarga lain yang mungkin lebih sejahtera untuk membantu.

Posdaya Lingkar Kampus  

Prof Dr Haryono Suyono, menuturkan, banyak  mahasiswa yang terkejut, bahwa di sekitar kampusnya yang megah, ternyata masih banyak keluarga prasejahtera dengan berbasis alasan. Ribuan mahasiswa yang setiap hari berseliweran di sekitar kampus itu, ada yang sopan dan ada pula yang secara tidak sengaja memamerkan kemampuan orang tuanya, naik mobil, dan bersepeda motor mentereng. Diluar kesadaran mereka, ternyata di sekitar kampus masih banyak keluarga yang tidak selalu makan lebih dari sekali sehari.

Biarpun tempat tinggalnya yang sempit dekat dengan perguran tinggi, setiap kali hanya bisa merenung kapan bisa mengirim anaknya ke perguruan tinggi yang selama ini menjadi tetangganya. Ada dua anaknya yang dijanjikan bakal menjadi anak pandai karena mengikuti program KB, ternyata sekolahnya di SD kadang masuk, kadang terpaksa tidak. Lantaran kedua anaknya yang masih kecil itu terpaksa membantu orangtuanya yang miskin dan tidak menentu pekerjaannya. ”Impian di muka rumahnya akan tetap menjadi impian belaka,” tegas Haryono.

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono saat mengunjungi Posdaya Kenanga Situ Gede Bogor, yakni Posdaya lingkar kampus IPB.
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono saat mengunjungi Posdaya Kenanga Situ Gede Bogor, yakni Posdaya lingkar kampus IPB.

Lebih lanjut ia menyampaikan, ada  dosen bidang ekonomi kerakyatan yang biasanya dengan gigih mengajarkan ilmu yang rumit bagaimana membangun ekonomi untuk rakyat kecil. Ia melihat bahwa di beberapa Posdaya lingkar kampus masih banyak keluarga prasejahtera, dan langsung mengajak mahasiswa yang dibinanya untuk segera menyusun rancangan studi operasional bagaimana membangun ekonomi keluarga di sekitar kampus.

Dosen tersebut malah ingin menghasilkan paper ilmiah bagaimana seluruh kampus secara serentak membangun mulai dari sekitar kampusnya dan menempatkan kampus bukan dengan pakar tinggi di antara keluarga kampung yang kumuh. Tetapi justru menjadi penggerak pembangunan keluarga di sekeliling kampus. Inilah praktik Rektor IPB dengan kegiatan lingkar kampus menjadi inspiras yang menarik untuk ditiru dan diprakterkan tanpa prasangka apapun. ”Toh seorang rektor tidak perlu menjadi ketua RT di lingkar kampus,” ujarnya.

Disamping kejutan yang dialami oleh para dosen dan mahasiswa di beberapa kampus, menurutnya, praktik pendataan yang dimulai di beberapa Posdaya, membuat beberapa keluarga anggota Posdaya terusik dan segera ingin pindah posisi. Ada keluarga kaya yang tidak kurang suatu apapun di lingkungan kampungnya merasa kecewa

Ternyata keluarga kaya ini dalam pendataan bukan berada pada posisi puncak dalam rangkaian pendataan dengan indikator sesuai UU dan peraturan pemerintah yang berlaku. Secara bisik-bisik, ia bertanya kepada tetangganya yang mengikuti penjelasan tentang syarat pendataan. Keluarha ini terkejut, selama ini memang malas mengikuti kegiatan sosial di kampungnya. Ia lebih sering ikut arisan dengan acara makan-makan di restoran mewah bersama rekan-rekannya.

Keluarga ini sukar diajak memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial di lingkungannya. Dalam renungan hatinya, dia berpikir, ternyata banyak keluarga sekaya dirinya berada pada posisi yang terhormat karena rajin mengikuti kegiatan sosial di kampungnya dan dengan iklas menyumbang pada kegiatan bersama keluarga yang menderita. Pendataan keluarga ini menyadarkan bahwa hidup kaya raya tanpa rasa empati kepada sesamanya akan menurunkan martabatnya di muka khalayak di kampungnya.

Melihat hasil pendataan dan pemetaan keluarga di kampungnya, kelompok kerja keluarga sejahtera III dan keluarga sejahtera III plus didorong dan ditugasi untuk membantu mengangkat keluarga prasejahtera menjadi sejahtera I.

Nyatanya, kelompok ini dapat dengan mudah memberikan pekerjaan sederhana kepada anggota keluarga prasejahtera untuk memenuhi kebutuhan dasar yang sangat minimal secara berkelanjutan. Dengan bantuan sederhana dari keluarga sejahtera III dan sejahtera III plus, hampir dapat dipastikan keluarga prasejahtera dapat diangkat dengan mudah ke arah yang lebih baik. Baca: Sarapan Pagi untuk Pemberdayaan Keluarga