Dalam mengelola minimart Islami, ummat perlu dilibatkan tidak hanya sebagai konsumen, tapi juga produsen dan bahkan pemilik
Ketua Majelis Taklim Wirausaha (MTW) Ustad Valentino Dinsi mengatakan, model minimarket yang paling ideal adalah KITAMart Bojongkulur, Bogor, Jawa Barat dimana terjadi sharing ekonomi.
Sharing ekonomi ini, jelas Ustad Valentino, menjadi tren global karena adanya keterlibatan umat untuk berjamaah dalam upaya membangkitkan ekonomi umat, dan hasilnya pun dibagi bersama-sama.
“Jadi, KITAMart Bojongkulur ini memang model minimarket paling ideal, disebut sharing ekonomi dan menjadi tren global saat ini,” ujar Ustad Valentino dalam acara “Kebangkitan Ekonomi Umat”, di Masjid Assyifa, Bojongkulur, Bogor, Jawa Barat, Minggu (13/5).
Valentino menegaskan, bahwa kekuatan umat yang besar sebagai kekuatan purchasing power parity (kekuatan daya beli) itu yang harus senantiasa dijaga. Terbukti, kata Valentino, ketika umat serentak teriak Boikot Sari Roti. ”Maka, Sari Roti pun bangkrut. Masalahnya kita tidak memiliki solusi alternatif sebagai pengganti Sari Roti,” ujar Ustad Valentino.
Menurutnya, apabila saat itu ummat memiliki substisusi pengganti Sari Roti, maka bisa dipastikan merek roti milik ummat akan tumbuh besar. Meski ummat tidak boleh terus-menerus menjadi objek ekonomi, target produsen yang hanya memperkaya segelintir orang saja dan agar kekayaan tidak beredar hanya di kalangan orang tertentu saja.
Untuk itu, tegas Ustad Valentino, ummat perlu dilibatkan tidak hanya sebagai konsumen tapi juga produsen, bahkan sekaligus pemilik. ”Maka, KITAMart hadir di tengah ummat. Inilah inti dari sharing economy yang menjadi inti dari ekonomi syariah,” ungkap Ustad Valentino.
Kembali dia menyampaikan, bahwa sharing ekonomi merupakan inti daripada ekonomi syariah sebagaimana dalam Al-Quran dijelaskan :”Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan” (Al Maidah ayah 2).
”Ayatnya sangat jelas, tolong menolong kamu didalam kebaikan dan ketaqwaan. Dimana bisa dilihat bahwa KITAMart Bojongkulur ini dimiliki oleh 70 masjid dan mushola dan 570 jamaah kepemilikannya,” ujar Ustad Valentino.
Ini jelas dia, mengandung arti bahwa 570 orang jamaah itu sebagai konsumen wajib berbelanja di KITAMart, maka dia juga menjamin kemajuan bisnis minimar Islami ini ditambah lagi letaknya yang strategis dan terpenting lagi peran para ulama dalam mensosialisasikan dan mengajak umat Muslim belanja di KITAMart milik umat ini.
”Tempat strategis dan komunitas jamaah Muslim itu menjadikan omzet mini mart Islami ini jadi berlipat belum lagi peran ulama dalam mengajak umat belanja ke KITAMart. Ini mendorong omzet berlimpah juga,” pungkasnya.

