Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat adanya kenaikan pada jumlah pemanfaatan Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) oleh investor sebesar 17,34 persen sepanjang tahun 2013 dibandingkan tahun sebelumnya. Sayangnya walau mengalami peningkatan, secara keseluruhan total investor yang memanfaatkan Fasilitas AKSes saat ini baru menembus angka 42.000 dan belum mencapai jumlah yang diharapkan.
Direktur Utama KSEI, Heri Sunaryadi mengatakan kini pihaknya tengah mengupayakan berbagai pengembangan untuk memberikan kemudahan dan alternatif bagi investor untuk melakukan login. Langkah ini dilakukan agar investor dapat lebih mudah melakukan pemantauan portofolio Efek dan dana melalui Fasilitas AKSes. “Berdasarkan hasil survei Fasilitas AKSes tahun lalu memang masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi investor untuk memanfaatkan Fasilitas AKSes. Untuk itu, KSEI berupaya memberikan beberapa alternatif agar investor semakin mudah melakukan login dan melakukan pemantauan portofolio Efek dan dananya,” kata Heri dalam siaran persnya yang diterima mysharing.co, Jumat (20/6).

Heri menambahkan, alternatif untuklogin ke Fasilitas AKSes telah diupayakan melalui kerja sama Co-Branding Fasilitas AKSes dengan ATM Bank Pembayaran. Pada awal tahun 2014, KSEI melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan Bank Permata, yang direncanakan akan mulai beroperasi akhir Juni ini. Kerja sama ini juga menandakan dimulainya sinergi antara pasar modal dengan dunia perbankan.
Selain itu, lanjut Heri, sebagai lembaga yang memiliki catatan tentang investor pasar modal Indonesia, KSEI hingga saat ini terus berusaha agar data yang tercatat selalu terkini dan terbarukan, khususnya untuk mendukung implementasi Single Investor Identification (SID). Penerapan modul Static Data Investor (SDI) sejak 27 Desember 2013 menjadi langkah awal dalam proses pengkinian data investor. Dengan modul tersebut, pengkinian data dapat dilakukan oleh Pemegang Rekening KSEI (Perusahaan Efek dan Bank Kustodian) secara langsung apabila terjadi perubahan data nasabah.
Dalam waktu dekat diharapkan data nasabah di SDI dapat terhubung dengan data kependudukan milik Departemen Dalam Negeri yang didasarkan pada data e-KTP. “Untuk merealisasikan hal tersebut, beberapa waktu lalu Otoritas Jasa Keuangan telah menandatangani Memorandum of Understanding dengan Kementerian Dalam Negeri untuk pemanfaatan database kependudukan Republik Indonesia. Sebagai tahap awal, database kependudukan akan dimanfaatkan untuk mengefektifkan proses pengkinian data investor yang telah terdaftar dalam modul SDI,” imbuh Heri.
Berdasarkan data di KSEI, jumlah Sub Rekening Efek yang tercatat selama setahun terakhir naik sebesar 13,56 persen dari 359.333 menjadi 408.045. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah SID yang meningkat sekitar 13 persen dari 281.256 pada tahun 2012 menjadi 320.506. Peningkatan kinerja KSEI juga ditandai dengan meningkatnya jumlah Efek yang tercatat di KSEI sebesar 5,66 persen dari 1.112 di tahun 2012 menjadi 1.175 di tahun 2013.
Meski demikian, dari sisi nilai terjadi penurunan aset yang tercatat di KSEI sebesar 4,91 persen dari Rp 2.762,22 triliun menjadi Rp 2.626,35 triliun. Penurunan ini disebabkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot pada periode Juni – Juli 2013 dan karena adanya penarikan saham scripless menjadi scrip dengan nilai yang cukup besar di bulan September 2013.
Sementara, dari segi keuangan, terjadi penurunan sekitar 8 persen pada jumlah laba komprehensif tahun berjalan yakni dari Rp 137 miliar di tahun 2012 menjadi Rp 126 miliar di tahun 2013. Namun secara operasional, dari tahun ke tahun KSEI masih mencatatkan kinerja keuangan yang sehat, dengan pertumbuhan rata-rata laba komprehensif sebesar 13 persen selama 5 tahun terakhir (2009 – 2013). Pertumbuhan positif turut dicatatkan KSEI pada jumlah aset Perusahaan yang mencapai sekitar Rp 1 triliun dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 22 persen selama 5 tahun terakhir (2009 – 2013).

