Mengkonsumsi makanan halal berpengaruh pada kepribadian yang lebih taat kepada Allah SWT. Sebaliknya, jika mengkonsumsi makanan haram, malah menumpukkan nokta hitam dihatinya.

Dalam tinjauan yang lebih mendalam dari sisi Diniyyah, secara keagamaan. Makanan yang halal merupakan energi yang positif dan gizi bagi sel-sel tubuh. Sehingga sel-sel anggota tubuh akan bergerak secara positif.” Insya Allah membuatnya menjadi ringan dan mudah untuk beribadah, serta mengarahkan individu yang mengkonsumsinya untuk lebih taat kepada Allah SWT,” kata Hamdan kepada MySharing, di kantor MUI Pusat Jakarta, Rabu (25/2).
Namun sebaliknya, lanjutnya, makanan yang haram menjadi sumber energi yang negatif, berakibat menjadi berat untuk beribadah dan cenderung mudah untuk berbuat maksiat. Maka, bisa dilihat orang yang memakan rejeki yang tidak halal, misalnya dari mencuri atau korupsi, ibadahnya cenderung malas dengan berbagai alasan. “Tubuhnya telah terkontaminasi dengan yang haram. Karena sumber energi negatif, membuatnya cenderung kepada perbuatan yang negatif pula, yakni maksiat yang dilarang agama,” tegasnya.
Menurutnya, dampak ini bukan hanya kepada diri yang bersangkutan, tetapi meluas kepada keluarganya. Misalnya, orang yang korupsi, mengkonsumsi makanan yang tidak halal. Maka anak-anaknya banyak yang terjerat dan kecanduan narkoba, berperilaku hidup bebas (free sexs), suka dugem atau perbuatan maksiat lainnya. Hal ini telah diisyaratkan dengan hadist Nabi saw :”Setiap tubuh yang tumbuh dari makanan yang haram, maka api neraka lebih utama baginya.”(H.R.At-Thabrani). Tertuang juga dalam Hadist Nabi saw, berupa wasiat beliau kepada sahabatnya, Ka’ab bin ‘Ujroh dengan makna :” Wahai Ka’ab bin Ujroh, sesungguhnya tidak tumbuh daging dari makanan yang haram, kecuali neraka yang lebih berhak untuknya.” (H.R. At-Turmudzi).
Dalam riwayat lain, Hadist Nabi saw menyebutkan, orang yang mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak halal, tidak akan diterima amal ibadahnya. Ini dapat dipahami, karena Allah SWT itu Maha Baik dan Suci. Dan tidak akan menerima kecuali yang baik dan suci saja. Riwayat Abu Hurairah, menyebutkan :” Telah bersabda Rasululloh saw.” Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang mukmin, seperti apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman. “Wahai para rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakan amal shalih. “
Dan Dia berfirman :”Wahai orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu. Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa :”Wahai Tuhan, wahai Tuhan, sedangkan makanan dan minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan haram. Maka bagaimana mungkin orang seperti ini akan dikabulkan doanya.” (H.R.Muslim no. 1015).
Lebih lanjut ia menjelaskan, setiap kali orang berbuat maksiat, termasuk mengkonsumsi makanan yang tidak halal, maka terjadi titik noda di hatinya. Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia melakukan dosa, di hatinya ada nokta hitam. Jika ia bertobat dan meminta ampunan, maka hatinya akan cemerlang kembali. Namun, jika bertambah dosanya, maka bertambah pulalah nokta tersebut. Itulah yang disebut “ran.” Allah SWT berfirman, “Sekali-sekali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”(Q.S al-Muthaffifin 83:14/H.R. Tirmidzi, Nasa, Ibnu Majah).
Hamdan menegaskan, kalau banyak berbuat dosa, maka titik noda di hatinya juga akan bertambah banyak. Sehingga hatinya bisa menjadi hitam dan keras, bahkan bisa lebih keras daripada batu. Sehingga tidak bisa lagi menerima kebenaran cahaya agama. Ini diselaraskan dalam surat al-Baqarah 2:27, berbunyi:”Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”
Mengapa hati bisa mengkilap bersinar. Namun bisa juga yang sebaliknya menjadi hitam kelam sebagaimana diterangkan dalam hadits Nabi saw. Oleh karena itu, sebisa mungkin seorang Muslim harus memperhatikan kondisi hatinya setiap saat. “Jangan sampai menjadi hati yang keras atau mulai menggeras, sehingga nantinya akan menjadi keras dan sulit menerima kebenaranya. Na’udzu billahi min dzalik,” ujarnya.

