Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) – Muliaman D. hadad, hadir menjadi pembicara dalam pertemuan tahunan Islamic Development Bank (IDB) ke-39 yang berlangsung di Jeddah, Saudi Arabia, 23-26 Juni 2014. Pertemuan ini sekaligus menjadi perayaan ulang tahun IDB ke 40 dan dibuka oleh Putra Mahkota Saudi Arabia – Salman bin Abdulaziz.
Pada kesempatan ini Muliaman D. Hadad diminta sebagai pembicara dalam dua seminar untuk memaparkan perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia. Seminar ini mempertemukan para pakar termasuk perwakilan multilateral, organisasi internasional, regional, lokal, ahli-ahli keuangan syariah, dan otoritas pembuat kebijakan serta peraturan dari berbagai negara.
Di hari pertama, Muliaman Hadad secara khusus menyampaikan perkembangan industri Microtakaful di Indonesia yang pertumbuhannya cukup menggembirakan dengan potensi pasar yang cukup besar. Pada kesempatan ini, juga disampaikan secara ringkas Grand Design Microinsurance Indonesia. Di dalamnya mencakup Microtakaful yang diluncurkan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada Oktober 2013.
Muliaman Hadad menekankan pengembangan Microtakaful merupakan bagian dari program financial inclusion yang harus dihubungkan dan saling berhubungan dengan inisiatif lain, seperti pembayaran digital (digital payment) dan branchless banking. Kebutuhan untuk koordinasi antarotoritas, asosiasi, operator takaful, dan saluran distribusi. Termasuk di dalamnya adalah perusahaan telekomunikasi serta masyarakat adalah kunci pengembangan industri microtakaful.
- Bank Muamalat Selenggarakan Muamalah Executive Class di 4 Kota
- KB Bank Syariah Gelar Aksi CSR Serentak, Perkuat Kontribusi Sosial se-Indonesia
- Sambut Idulfitri 1447 H, Bank Muamalat Optimalkan Layanan Kantor Cabang dan Digital
- Royco dan Masjid Istiqlal Berbagi Kelezatan untuk Hangatkan Momen Kebersamaan di Ramadhan
Pada seminar berikutnya, Muliaman Hadad juga diminta untuk menyampaikan perkembangan Industri Keuangan Syariah di Indonesia dengan kerangka kerja dan arah kebijakan pengembangan industri keuangan syariah.
“Industri keuangan Islam telah berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Di segmen perbankan syariah, pertumbuhan rata-rata aset telah mencapai rata-rata 37,4% dalam lima tahun terakhir. Dengan total aset sekitar USD 21 miliar. Industri perbankan syariah memiliki hampir 13 juta rekening simpanan, dan kurang lebih didukung dengan 3.000 jaringan kantor di seluruh Indonesia. Pangsa pasar perbankan syariah saat ini telah mencapai 4,9% dari aset perbankan di Indonesia,” papar Muliaman di momen seminar IDB tersebut di hari kedua.
Muliaman lalu menambahkan, industri pasar modal syariah di Indonesia juga telah berkembang dengan meningkatnya jumlah penerbitan sukuk termasuk sukuk pemerintah. Lebih dari 300 saham syariah yang merupakan bagian dari Islamic Index.
“Reksadana syariah juga tumbuh cukup signifikan dengan outstanding dana kelolaan sekitar USD 1 miliar. Pembiayaan syariah juga berkembang dalam semua jenis pembiayaan termasuk KPR, kredit mobil, dan lainnya. Industri asuransi syariah juga memiliki tren yang lebih menjanjikan, ditandai dengan meningkatnya jumlah dana yang dikelola di bawah industri asuransi syariah. Penetrasi asuransi syariah relatif kecil tetapi dengan dukungan iklim pengaturan saat ini, juga akan meningkat secara signifikan di masa depan,” lanjut Muliaman.
Pada kesempatan ini, Muliaman Hadad juga menyampaikan pentingnya memiliki Arsitektur Keuangan Syariah yang terintegrasi sehingga diharapkan indutri keuangan syariah Indonesia dapat memiliki peran yang lebih besar dalam mendukung pembangunan ekonomi. Kemudian keuangan syariah memiliki arah pengembangan yang bersifat lebih terintegrasi. Berikutnya, keuangan syariah di Indonesia dapat beroperasi lebih efisien dan kompetitif termasuk penguatan modal dan sinergi. Lalu, keuangan syariah di Indonesia mendukung perluasan akses dan financial inclusion. Serta, keuangan syariah Indonesia merupakan bagian dari rencana pembangunan nasional jangka menengah, demikian Muliaman D. Hadad.
