Wisatawan China.foto:MySharing

Pariwisata Syariah untuk Target 20 Juta Wisman

[sc name="adsensepostbottom"]

Pariwisata syariah dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendukung target kunjungan Wisman dari 9,5 juta saat ini menjadi 20 juta.

Wisatawan China.foto:MySharing
Wisatawan asal China. Foto: MySharing

Indonesia memiliki potensi yang bagus untuk pariwisata syariah baik dalam dan luar negeri. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk mengejar target 20 juta kunjungan wisatawan manca negara (wisman) di era Jokowi-JK ini. Baca juga: Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia Menurun

Forum Pakar dan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) menilai, potensi Indonesia sebagai destinasi utama pariwisata syariah global sangatlah besar. Faktor utamanya adalah fakta bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, membentuk budaya Islam yang unik. Misalnya, Indonesia memiliki 600 ribu Mesjid dengan keragaman budaya yang melatarinya. Selain itu, keunikan budaya Indonesia sendiri adalah sebuah nilai jual.

“Kita punya unique cultures, lalu memiliki more than 600.000 mosques, bagaimana ini belum bisa dioptimalkan?”, kata anggota Dewan Pakar dan Pembina MES, Sapta Nirwandar dalam Forum Pakar dan Pembina MES di Jakarta, Selasa (17/2).

Sapta menyontohkan, mesjid Istiqlal di Jakarta misalnya, saat ia menjabat sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ia mencoba mempromosikan mesjid terbesar di Asia Tenggara ini sebagai salah satu obyek pariwisata syariah unggulan dari Indonesia. Namun, ternyata banyak faktor yang menghambat, salah satunya kendala kebersihan mesjid jika mesjid ini dijadikan obyek wisata unggulan. Padahal, Sapta menyontohkan bagaimana Singapura memiliki Mesjid Sultan dan berhasil mempromosikannya, tetap bersih pula. “Biaya kebersihan yang diminta perusahaan cleaning service mencapai miliaran”, kata Sapta menyebutkan salah satu kendalanya.

Selain Mesjid Indonesia juga memiliki budaya daerah dan keindahan alam yang dapat dijual sebagai paket pariwisata syariah. Mengenai apa dan bagaimana pariwisata syariah itu dan bagaimana bisa bersinergi dengan paket pariwisata yang sudah ada sebelumnya, Forum Pakar dan Pembina ini menilai hal itu dapat diselesaikan dan sebenarnya sudah ada panduannya.[su_pullquote align=”right”]“Indonesia harus memikirkan istilah untuk pariwisata syariah yang mewakili konsepnya, lebih inklusif, sekaligus menjual”[/su_pullquote]

Zidane sebagai Duta
Menjual paket pariwisata syariah juga tidak melulu berarti ekslusif. Sapta menyontohkan bagaimana Hotel Kempinsky di Dubai sejatinya adalah hotel syariah namun inklusif. Biaya menginapnya saja mencapai USD 4000 semalam. Di Indonesia, menurutnya baru 37 hotel yang disertifikasi halal atau telah menjadi hotel syariah, sedangkan untuk restoran baru 29 yang bersertifikat halal.

Oleh karena itu menurutnya MES harus menyampaikan rancangan pengembangan pariwisata syariah kepada Pemerintah dan pembuatannya dapat dimulai dari Forum Pakar dan Pembina ini.

Berbagai usulan datang dari para anggota Dewan Pakar dan Pembina MES, salah satunya adalah memikirkan kembali penggunaan istilah pariwisata syariah untuk Indonesia di dunia internasional. Sebagai contoh, Malaysia memakai istilah ‘Islamic Tourism’, nah Indonesia harus memikirkan istilah untuk pariwisata syariah yang mewakili konsepnya, lebih inklusif, sekaligus menjual. Juga ada usulan untuk mengurangi penggunaan gambar yang agak sensitif bagi umat Islam, khususnya umat Islam di Timur Tengah, seperti gambar Candi Borobudur dan penari Bali dengan pundaknya yang terlihat. Disarankan juga, Pemerintah mulai mempertimbangkan untuk menggunakan duta pariwisata syariah untuk Indonesia dari kalangan selebritas global yang beragama Islam seperti Maher Zain (penyanyi) atau Zinedine Zidane (pesepakbola).